Sabtu, 24 September 2016

KETERPADUAN SURABAYA RAYA



KOTA MANDIRI TERPADU DI SURABAYA RAYA



JAWA TIMUR –KOTA SATELITE BARU DI SURABAYA RAYA 

PENULIS IDE:SUPRIYANTO, SE 
Pemerhati tata ruang

             Berdasarkan data di Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jatim yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, sejak tahun 2000 pertumbuhan penduduk di Jatim dibawah 1%. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Jatim per tahun selama 10 tahun terakhir periode sebesar 0,75%. Dan laju pertumbuhan penduduk dibawah 1%, diharapkan bisa memberi sumbangan terhadap proses perencanaan pembangunan yang matang dan muaranya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
              Hal yang menarik bahwa perkembangan penduduk perkotaan ternyata juga meningkat tajam. Peningkatan penduduk kota yang terus meningkat membuat Pemerintah provinsi Jawa Timur Dan pemerintah pusat berinisiatif untuk membangun suatu kawasan terpadu seperti menciptakan kota mandiri. Sehingga masyarakat sekitar tak selalu menggantungkan perekonomian dari masyarakat kota sebagai salah satu tempat untuk memutar roda perekonomian. 
                Saya sebagai penulis mengusulkan Salah satu master plan yang sudah saya  siapkan  adalah pembangunan KOTA BARU SIDOARJO, KOTA BARU GRESIK,KOTA BARU SURABAYA dan KOTA BARU MOJOKERTO dipilihnya kawasan tersebut karena dinilai sebagai salah satu kawasan yang strategis. Apalagi Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpu-pera) memberi peluang Wilayah surabaya raya sebagai kawasan yang mendapat jatah program pengembangan kawasan. Dan tentunya dana yang disiapkan untuk megaproyek tersebut tidak main-main hingga mencapai triliunan. Saya sebagai penulis mengusulkan Rencana ada 4 kota satelite baru yang ditetapkan menjadi wilayah pengembangan KOTA mandiri terpadu yakni sidoarjo di Krian -Wonoayu, Gresik di Driyorejo-Menganti ,Surabaya di lakarsantri-sambikerep dan mojokerto di mojosari dan ngoro.
 ( tersaji dalam peta)
                 Dipilihnya Kecamatan KOTA BARU satelite tersebut karena wilayah ini ditengarai sebagai salah satu wilayah yang strategis sebagai penghubung dari kecamatan-kecamatan tersebut. Karena sebagai wilayah penghubung yang strategis untuk mempertemukan Krian-Menganti-Benowo, krian hingga tembus Mojokerto, krian-Surabaya hingga tembus Krian- Sidoarjo dan gresik-Krian. Program pengembangan kawasan permukiman di wilayah kota baru ini sebenarnya sudah bergulir untuk tahap awal disiapkan 10.000 hektare lahan untuk pengembangan perumahan terpadu yang terbagi sebagai berikut:.
    1.Untuk wilayah sidoarjo Tepatnya dimulai dengan pembangunan perumahan Nirwana Regency, Jasmine Recidence,Krian Sejahtera, hingga Bumi Papan Selaras,Mandiri residen,Green House regency, kemasan regency, perum griyaloka,citra harmoni,griya samudra,babadan asri ,grand candinegoro dll, 
     2. Untuk wilayah Surabaya tepatnya dimulai dengan perumahan citraland lakarsantri,perum pakuwon indah,perum manukan,dll
     3.Untuk wilayah Gresik tepatnya  dengan perum driyorejo kota baru, perum bambe, perum graha puncak anom,dll 
     4.Untuk wilayah mojokerto tepatnya dimulai dengan pembangunan permukiman di mojosari dan industri di ngoro dan nantinya dari 4 wilayah tersebut harus ditetapkan lokasi mana yg akan jadi tetenger pusat pertumbuhan atau istilahnya alon-alon kota nya
( Tersaji dalam peta )   








       
                  Saya harap Para pemangku jabatan memberi  penetepan Kota satelite Baru  sebagai kawasan terpadu dari kemenpu-pera, untuk membuat rasa optimis yang tinggi bahwa Kota Baru yang selama ini dipandang sebelah mata karena keterbatasan infrastruktur bisa menjadi kawasan terpadu yang layak dan menjanjikan. “Percepatan pengembangan Surabaya raya khususnya wilayah kota satelite Baru saya harap  bisa segera terealisasi dengan adanya program dari Kemenpu-pera. Dan kami pastikan infrastruktur dikawasan ini akan menyerupai kawasan satelit yaitu serba terjangkaunya fasilitas sarana dan prasarananya baik itu akses jalan yang sangat indah maupun fasilitas umum,dan fasilitas sosial lainnya ,” jelasnya.
                 Dan mimpi saya untuk menjadikan Kota Baru terpadu  sebagai sentra bisnis, sentra permukiman,dan sentra industri di kota baru hanya  akan  terwujud bila kepala daerah di empat wilayah surabaya raya dapat duduk bersama dengan didampingi pihak pemerintah provinsi dan pemerintah pusat  dengan tujuan  percepatan pembangunan kawasan terpadu surabaya raya ,hal ini seiring dengan pembangunan Tol Sumo (Suroboyo-Mojokerto) ,Tol pasuruan -krian-manyar) yang kini dalam proses penggarapan. Maka saya pun  mengusulkan JLLB surabaya yang sedang dibangun mulai dari teluk lamong dapat melintasi wilayah lakarsantri-randegansari-tenaru driyorejo- keboharan- candinegoro -pagerngumbuk- ngoro mojokerto
                  Kota Baru surabaya raya dapat diplot sebagai kawasan pemukiman yang strategis karena dekatnya dan memadainya infrastruktur jalan dengan Surabaya – Sidoarjo – Gresik – Krian - Mojokerto. Adanya Tol Sumo bisa dijadikan salah satu alasan sebagai jalan penghubung  antar kota di Jatim. Pemerintah pusat dan daerah saya harap  sangat sadar bahwa kelak Kota Baru tak hanya sebagai kota pemukiman terpadu yang baru dan pusat bisnis baru, namun bisa menjadi kawasan penyangga kotamadya surabaya yaitu sebagai Kota satelite dan banyaknya industri baru juga yang nantinya bisa menunjang perekonomian daerah agar tak selalu terpusat di kota surabaya saja. Dan berbagai penunjang infrastruktur juga mulai digarap seperti akses jalan yang menghubungkan Surabaya – Krian lewat jalan Trosobo – Mojokerto yang melintasi jalan Krian juga sudah berjalan mulus bahkan pengerjaannya sudah dimulai.
                   Penetapan kota terpadu sebagai kota penyangga pusat kota karena permasalahan pusat kota yang tidak mungkin lagi bisa dikembangkan  karena tidak bisa melakukan pembangunan berkelanjutan.investor dalam atau luar negeri diharapkan bisa menarik simpati sebagai kota pengganti /penyangga. 
                    Bila kelak kawasan ini Disulap menjadi suatu kawasan terpadu sebagai salah satu sentra bisnis baru untuk menggerakan perekonomian daerah terutama kota baru. Semoga kedepan hasilnya bisa sangat terasa dan sekarang berubah total, pergerakan ekonomi di atas fundamen yang kuat ini telah membawa surabaya raya mencatat economic growth rata-rata di atas 7,30% dalam tiga tahun terakhir ,Dan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional maupun ekonomi Jawa Timur. 
                    Industri pengolahan mengkontribusi terbesar PDRB , diikuti sektor perdagangan dan jasa. Besarnya kontribusi sektor industri pengolahan menjadikan prioritas program, diarahkan kepada penguatan infrastruktur bagi perkembangan kawasan industri dan industrail estate (warehousing) ,Khususnya pada program-program yang menstimulir terdorongnya aktivitas sektor industri dan investasi. Targetnya, industri existing bisa terus berkembang dan investasi baru terus berdatangan, PDRB terus bertumbuh, sehingga ada economic effects yang besar bagi kesejahteraan masyarakat akibat dampak dari pembangunan surabaya raya.
                   Selain itu berdirinya beberapa pergudangan dan perumahan yang ada dalam kawasan ini akan dilengkapi pusat komersial ( mall, trade centre, perkantoran, hotel dan restauran) disetiap pusat pusat pertumbuhan kota satelite. Lokasi kawasan ini terbilang sangat strategis, karena berbatasan dengan Surabaya yang sedang mengalami perkembangan pesat sebagai wilayah bisnis dan permukiman mewah adanya Grup Ciputra yang terus membidik sentra bisnis baru. 
                  Sekedar diketahui kawasan terpadu ini berbatasan dengan Gresik-Surabaya-Sidoarj-mojosari-mojokerto dan diharapkan dikembangkan Proyek Perumahan Kota Baru  oleh Perumnas di setiap 4 kota tersebut krn seperti kita ketahui perumnas hanya membangun perumahannya di gresik yang bernama driyorejo  kota baru . 
                  Perbatasan bagian selatan merupakan daerah industri eksisting dan ada sudah ribuan pabrik beroperasi di sekitar surabaya raya ini, dan kawasan blok ini akan ditetapkan menjadi daerah industri baru. Bagian selatan Krian,Driyorejo dan Wringinanom,ngoro yang kini telah berkembang sebagai wilayah industri dan pergudangan. Akses masuk lokasi perencanaan bisa melalui beberapa alternatif, baik dari arah Surabaya, arah gresik, arah Sidoarjo Timur, maupun arah Mojokerto. Sedangkan Jalan Tol Surabaya Mojokerto (Tol Sumo) juga menyiapkan pintu tol di Wringinanom dan di Banjaran Driyorejo, keduanya masuk dalam wilayah perencanaan.
                  Saya sebagai penggagas berharap bisa terwujudnya kawasan terpadu dan ingin para pemangku jabatan mewujudkan pembangunan perumahan yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan keruwetan pasca pembangunan, serta bisa memberi peluang bagi berbisnis. “Pembangunan Kawasan terpadu bisa bermanfaat besar bagi masyarakat sekitar. Tak hanya menyelamatkan dari kemiskinan tapi juga bisa menghindarkan masyarakat dari dampak pembangunan. Maklum kalau pembangunan dilakukan dengan tidak hati-hati, maka yang terjadi bukan kemakmuran tapi bencana yang semuanya itu dilakukan oleh manusia itu sendiri,”
                Saya juga ingin menjelaskan bahwa pembangunan yang tak berkonsep tentu akan merugikan secara nasional, karena dampaknya bisa sangat komplek sekali termasuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. “Kebutuhan rumah sederhana tapak (RST), sebagai bentuk pemerataan pembangunan sangat dibutuhkan sekali. Seiring tren pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang cukup tinggi, kebutuhan tempat tinggal yang sifatnya pokok ikut naik, tidak terkecuali bagi golongan menengah ke bawah dengan RST sebanyak ribuan unit . Hal itu sejalan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jatim yang mengalami peningkatan dari 71,62 menjadi 72,15, serta indeks disparitas dari 115,14 menjadi 115,13.

Dan sebagai informasi ini adalah ulangan tulisan yg telah saya tuliskan sejak tahun 2009 dengan berharap seiring bergantinya pemimpin di daerah ada pemangku jabatan di kota ini mendengar atau bahkan mengarahkan untuk dapat melaksanakan  ide yang telah saya tuangkan.


PEMBANGUNAN DI SIDOARJO TIDAK BERJALAN DENGAN BAIK

                    Pembangunan jalan di sidoarjo yg tidak berjalan dengan baik , kami rasa pembangunan jalan baru ini bukan hanya sekedar wacana karena seperti kita lihat pembangunan jalan di kabupaten sidoarjo yang kami lihat hanya ada di jalan nasional dan sepertinya pemda hanya mengandalkan 2 jalan nasional itu yaitu jalan sidoarjo waru dan waru krian selebihnya pemda tidak punya pemikiran atau alternatif untuk menambah jalan baru,sekedar untuk perbandingan di mojokerto kita tahu apbd 2016 di mojokerto hanya 2,4 triliun tapi kita lihat disana pembangunan sangat masif jalan jalan desa bahkan yang hingga pelosok desa -jalan kecamatan - jalan kabupaten semua mendapat prioritas pembangunan baik jalan aspal sampai beton kita lihat sangat kentara pembangunan di mojokerto dan warga pun puas akan kinerja kabupaten dan kota mojokerto terlepas adanya aroma korupsi atau tidak, semoga di mojokerto dana yang bocor sangat minim, tapi yang kita lihat di sidoarjo berbanding terbalik dengan APBD yang mencapai 4,2 triliun (bahkan tertinggi kedua di jawa timur) apa yang dikerjakan oleh pemda dan anggota dewan,mana pembangunan dari dana APBDES , APBD ,APBN dan dana CSR dari perusahaan yang sangat banyak di kabupaten ini.,saya rasa banyak warga yang merasakan kurangnya ada manfaat ,saya ambilkan contoh kasus pembangunan di pemkab sidoarjo

1.upaya pavingisasi jalan di kampung bukan rahasia lagi bahwa saat ini telah terkuak warga hanya menerima material bangunan paving dan pasir dan tenaga penggarapnya dikerjakan secara gotong royong oleh warga(tanpa ada hitungan tenaga kerja ) padahal dimanapun yang namanya proyek pemerintah sudah mencantumkan anggaran untuk material dan tenaga pemborongnya, contoh pavingisasi di wilayah sepanjang taman YANG hanya digelontor pengadaan matrial paving dan pasirnya tanpa ada tenaga penggarapnya terus pertanyaannya apakah mungkin proyek jalan hanya menyediakan materialnya saja tanpa tenaga penggarapnya terus kemana dana tenaga pemborong buat bancakan kah? wallahualam yang pasti pengerjaaannya dilakukan secara swadaya/gotong royong warga.

2.Banyak jalan desa , jalan kecamatan dan jalan kabupaten yang rusak dibiarkan hingga 5 tahun rusak tanpa ada perbaikan contoh jalan di pagerngumbuk dan desa desa didalamnya,kemudian untuk jalan pagerngumbuk hingga candinegoro hanya terbangun separo jalan yang separo masih tetap dibiarkan dalam keadaan rusak, jangan jangan anggaran perbaikan sudah di set tiap tahun nya di apbd untuk semua ruas tapi kena sunat jadi yang terbangun hanya separo jalan dan lagi lagi ternyata perbaikan perbaikan fiktif buat bancakan juga kah.

Saya ambilkan contoh peta RTRW/RDTR di sidoarjo dalam peta ini ada perencanaan jalan kolektor primer yang sudah direncanakan dalam perda no.06 tahun 2009 tapi hingga tahun ini belum terlihat akan di bangunnya jalan ini,kami lampirkan peta dibawah ini





3.anggaran pembangunan RTH di belakang pasar wonoayu setahu saya anggaran sudah masuk di APBD untuk tahap awal 200 juta sejak 2015 tapi lagi lagi taman fiktif coba kita lihat ke belakang pasar wonoayu mana ada taman yang di bangun , yang ada tumpukan barang rongsokan

4.Rencana pembangunan RSUD Krian,frontage road yg sudah direncanakan sejak 2014 hingga saat ini belum terlaksana

5.mulai banyak terkuaknya pembangunan fiktif baik dari anggaran apbdes, pemkab,pemprov, hingga pusat kami ingat adanya kasus di beberapa desa yang mendapat prioritas pembangunan jalan pertanian yang akhirnya terkuak hanya pembangunan fiktif jangankan jalan mulus jalan makadamnya pun tidak ada, kasus fiktif Sejumlah anggaran Rp 18 miliar itu dibagi diantaranya untuk pembangunan rumah dan pompa (BOR) senilai Rp. 2.139.680.000, Pengembangan Jaringan Irigasi senilai Rp. 4.221.200.000. Termasuk pembangunan/Rehab Jaringan Irigasi Tersier (Jitut) senilai Rp. 4.221.200.000, Pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) Dana Alokasi Khusus (DAK) senilai Rp. 1.688.480.000, Pembangunan Rumah dan Pompa (Air Permukaan) senilai Rp. 3.770.000.000 dan Pembangunan jaringan irigasi tersier 17 lokasi senilai Rp. 3.309.529.250.lagi lagi dana itu untuk pembangunan fiktif

6.Kejaksaan Negeri Sidoarjo(Kejari) sedang menelusuri Dugaan tindak Pidana Korupsi pada proyek Pembangunan Dan Pembebasan Lahan Stasiun Sidoarjo – Stasiun Tulangan beberapa Waktu lalu.lagi lagi pembebasan lahanya diduga fiktif

7.belum lagi adanya dugaan dana fiktif untuk kunjungan kerja dan lain lain saya rasa masih banyak kasus fiftif yang masih aman dari pemberitaan tapi seiring berjalannya waktu kita akan lihat dengan terang benderang bagaimana bobrokya MUSPIDA sidoarjo.

kita bandingkan saja pembangunan di kediri wilayah sidoarjo yang notabene berada di ring satu jawa timur sangat tertinggal jauh di kediri banyak pusat pusat kota kecilnya dibangun dengan baik oleh pemda misalnya PARE padahal kita tahu berapa industri besar di kediri yang dapat di hitung tetapi dana CSR perusahaan terlihat memang untuk masyarakat umum ,bandingkan dengan sidoarjo disamping APBD nya tinggi dan banyaknya perusahaan besar di wilayah iini yang tentunya dana CSR nya sangat berlimpah tapi kitaa lihat mana manfaat nya untuk masyarakat umum, trotoar masih acak-acakan, drainase dari jalan jalan di desa bahkan sampai jalan raya pun tak pernah di perhatikan dan bahkan sampai tidak ada saluran drainasenya,,sekarang gembar gembor masalah banjir menyalahkan sungai pertanyaannya apa yang sudah di perbuat pemda untuk menangani banjir ,paling tiap musim banjir hanya koar-koar di media agar bisa dianggarkan lebih besar, lagi lagi musim kemarau datang jadi dah proyek fiktif, rakyat wajib mempertanyakan tranparansi penggunaan dana APBD dan Dana CSR

memang sangat terlihat banyak pembangunan di sidoarjo yang baik tapi hanya dari peran developer perumahan pemkab sendiri terlihat tidak ada upaya melakukan inovasi pembangunan di daerahnya, kita lihat jangankan pembangunan di daerah potensial seperti krian waru dll di pusat kotanya sendiri tidak tersentuh pembangunan kita ambil contoh seperti surabaya uhhhh hebat pembangunan disana karena seperti halnya di gresik, mojokerto.

warga yakin pasti adanya kongkalikong antara eksekutif,legislatif dan yudikatif pertanyaannnya masihkah warga mempercayai tampuk pimpinan di daerah ini dipegang oleh itu itu saja yang tidak memenuhi ekspektasi warga ,ayo kita berikan mandat ke yang lain agar amanah dan melakukan pembangunan di daerah ini dengan jujur, dan memperbaiki moral pejabat di daerah ini,

Selasa, 20 September 2016

EVALUASI PERSIMPANGAN JALAN ACHMAD YANI SURABAYA DAN SOLUSI PEMECAHAN MASALAHNYA

 EVALUASI KINERJA PERSIMPANGAN JALAN ACHMAD YANI 
DAN PEMBANGUNAN UNDERPASS/FLYOVER PADA JALUR KERETA API
SEBAGAI SOLUSI PEMECAHAN MASALAHNYA DI SURABAYA

OLEH:SUPRIYANTO,SE
Pemerhati Tata Ruang Kota

Jalan Waru-Wonokromo merupakan salah satu jalan terpadat di surabaya yang mengalami  permasalahan lalu lintas, yaitu kemacetan. Hal ini terjadi bukan karena kapasitasnya (telah dibangunnya frontage road di jalan ini) tidak mampu lagi menampung volume kendaraan yang melintas, tapi karena kondisi eksisting dan upaya yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas persimpangan kereta api, di jalur sebidang sehingga meminimalisir kemungkinan kemacetan lalu lintas yang terjadi.
                                  Metode yang digunakan adalah survei lalu lintas, untuk mengetahui volume kendaraan yang melintas di tiap persimpangan yang ada di jalan Achmad Yani pada saat jam puncak, yaitu 06.00-09.00; 11.00-13.00 dan 16.00-17.00 WIB. Pelaksanaan survei ini dengan melibatkan surveyor yang menempati Pos Pengamatan di lokasi studi.  
        Hasil dari penelitian ini adalah kinerja di tiap persimpangan masuk dalam kategori LOS F yang berarti kinerja simpang buruk. Dari hasil survei   trafic counting dan identifikasi masalah di lapangan, dapat dibuat  perencanaan strategi penanganan dengan Manajemen Lalu Lintas yang dibagi menjadi 3 periode yaitu jangka  pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk strategi jangka pendek ditambah dengan perubahan  pengaturan waktu siklus menjadi 70 detik, waktu hijau 30 detik dan waktu merah 40 detik, tingkat pelayanan di masing-masing ruas jalan yang semula berada di LOS F berubah menjadi LOS C dan LOS B. Pada ruas.

BAB I PENDAHULUAN

        Persimpangan Jalan Achmad Yani Surabaya merupakan salah satu simpang yang dikendalikan oleh APILL (Alat Pengendali Isyarat Lampu Lalu lintas) dan memiliki akses cukup tinggi dalam mendukung perekonomian wilayah Jawa Timur. Hal ini disebabkan karena volume kendaraan yang melintas pada simpang ini banyak dan didominasi oleh kendaraan Pribadi dan umum Pada ruas Jalan Raya  menyebabkan antrian yang cukup panjang selalu terjadi dan meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan sumber data dari Departemen Perhubungan Provinsi Jawa Timur diperoleh bahwa volume lalu lintas tahun 2015 yang melintas adalah 600.722 kendaraan setiap harinya sedangkan kapasitasnya mampu menampung 500.540 kendaraan setelah dibangunnya frontage road sisi timur dan barat namun Ketidakmampuan simpang inilah yang akhirnya menyebabkan antrian yang cukup panjang dan memerlukan penanganan penyelesaian permasalahan dalam penelitian dengan judul Evaluasi Kinerja Persimpangan di sepanjang jalan Achmad Yani Surabaya  dan solusi Pemecahan masalahnya

TUJUAN
          Tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Mengetahui kondisi eksisting di tiap PerSimpangan
2. Mengetahui usulan penanganan lalu lintas yang tepat, sehingga dapat meningkatkan kinerja PerSimpangan.

MANFAAT
          Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Dapat diketahui permasalahan yang ada di Persimpangan, guna penetapan perencanaan perbaikan kedepannya.
2. Dapat memberikan masukan kepada pihak terkait dalam hal ini Dinas Perhubungan Bidang Lalu Lintas Provinsi Jawa Timur.

Manajemen Lalu Lintas
           Manajemen lalu lintas adalah pengelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dengan melakukan optimasi penggunaan prasarana yang ada melalui peredaman atau pengecilan tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan. Kebijakan transportasi perkotaan dikembangkan dan diarahkan dalam kerangka tertentu, yakni dengan mempertahankan kualitas lingkungan serta dengan mengembangkan Manajemen Lalu Lintas dengan mengoptimalkan fasilitas yang ada, perbaikan pengaturan lalu lintas serta menghindari pembangunan fisik atau pelebaran jalan dan lebih merekomendasikan pembangunan jalan baru. Manajemen lalu lintas merupakan salah satu tugas yang diserahkan untuk diselenggarakan oleh aparat Daerah Tingkat I untuk jalan propinsi dan aparat Daerah Tingkat II untuk jalan kabupaten/kotamadya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1990 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada Daerah Tingkat I dan Tingkat II.

Tujuan Manajemen Lalu Lintas
              Tujuan dengan dilakukannya Manajemen Lalu Lintas adalah:
1. Mendapatkan tingkat efisiensi dari pergerakan lalu lintas secara menyeluruh, dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi, menyeimbangkan permintaan dengan sarana penunjang yang tersedia.
2. Meningkatkan tingkat keselamatan dari pengguna yang dapat diterima oleh semua pihak dan memperbaiki tingkat keselamatan tersebut dengan baik.
 3. Melindungi dan memperbaiki keadaan dan kondisi lingkungan dimana arus lalu lintas tersebut berada.
 4. Mempromosikan penggunaan energi secara efisien ataupun penggunaan energi lain yang dampak negatifnya lebih kecil daripada energi yang ada.

Sasaran Manajemen Lalu Lintas
               Sasaran dari Manajemen Lalu Lintas adalah:
1. Mengatur dan menyederhanakan lalu lintas dengan melakukan pemisahan tipe, kecepatan dan pemakai jalan yang berbeda untuk meminimumkan gangguan terhadap lalu lintas.
2. Mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas di tiap persimpangan atau mengurangi volume lalu lintas pada suatu jalan. Melakukan optimasi ruas jalan dengan menentukan fungsi dari jalan dan kontrol terhadap aktivitas-aktivitas yang tidak cocok dengan fungsi jalan tersebut.

Strategi dan Teknik Manajemen Lalu Lintas
                Analisis penyebab kemacetan lalu lintas dapat ditandai dengan:
a. Kemacetan lalu lintas disebabkan volume lalu lintas melebihi kapasitas yang ada pada ruas jalan dan persimpangan
b. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah persimpangan pada jalur sebidang atau mengurangi volume lalu lintas. Dalam hal ini kapasitas dapat diperbaiki dengan jalan mengurangi penyebab gangguan, misalnya dengan memindahkan tempat parkir, mengontrol pejalan kaki atau dengan memindahkan lalu lintas ke rute lainnya atau dengan cara pengaturan yang lain seperti membuat jalan kereta api menjadi jalur Underpass(bawah tanah) mulai dari Stasiun Waru hingga Stasiun Wonokromo. karena seperti kita ketahui jalan di Achmad Yani Setelah adanya Frontage Road tetap mengalami kemacetan parah padahal kapasitas jalan ini telah di lebarkan sedemikian rupa tetapi karena ketidakmampuan penanganan pada jalur sebidang pada persimpangan kereta api menyebabkan kawasan ini tetap sebagai langganan macet

Gambar Kriteria Penentuan Pengaturan Persimpangan
 
Tingkat Pelayanan (Level of Service LOS) Berdasarkan V/C Rasio atau DS
 Sumber: MKJI, 1997

BAB III METODE
                Beberapa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Tingkat Pelayanan Karakteristik Batas Lingkup V/C A Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi, pengemudi dapat memilih kecepatan yang diinginkan tanpa hambatan. 0,00 - 0,20 B Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas, pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan. 0,20 -€“ 0,44 C Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. 0,45 -€“ 0,74 D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, V/C masih dapat ditolerir. 0,75 -€“ 0,84 E Volume lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas, arus tidak stabil, kecepatan terkadang terhenti. 0,85 -€“ 1,00 F Arus yang dipaksakan atau macet, kecepatan rendah, volume diatas kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan- hambatan besar ditiap persimpangan jalur kereta api.

1. Metode Observasi Lapangan
                Metode ini dilakukan dengan pengumpulan data di lapangan dengan melakukan pengamatan secara langsung pada kondisi eksisting persimpangan. Data yang diperoleh adalah jumlah kendaraan yang melewati persimpangan, geometrik simpang, tata guna lahan disekitar simpang, waktu siklus, jumlah fase, jenis perkerasan jalan, dan kelas jalan.

2. Metode Dokumentasi
               Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan di lokasi penelitianyang kemudian di dokumentasikan. Hal ini perlu dilakukan guna menunjukkan apabila kinerja simpang tersebut buruk maka pemotretan dilakukan pada waktu terjadinya kemacetan. Pelaksanaan survei perhitungan volume kendaraan yang melintas dilakukan di masing-masing perSimpangan, dimana data tersebut digunakan untuk mengoptimalkan kinerja perSimpangan. Survei dilaksanakan pada hari senin tanggal 7 Desember 2015, dimana pada hari senin dilakukan pada jam 06.00 - 09.00 WIB, 11.00 - 13.00 WIB dan 16.00 -“ 19.00 WIB. Data yang sudah diperoleh dalam survei primer, kemudian diolah dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, rumus yang sesuai dan referensi lain yang terkait
[MKJI, 1997].

 BAB IV PEMBAHASAN 

Kondisi Eksisting persimpangan   
             dalam hal ini penulis memberikan solusi dan Oleh sebab itu diperlukan suatu pengukuran tingkat pelayanan kinerja perSimpangan yang bertujuan untuk lebih mengoptimalkan kinerja simpang menjadi lebih baik lagi. Hasil perhitungan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif-alternatif pilihan terkait penanganan, misalnya:
1. Pengoptimalan prasarana yang ada saat ini,
2. Mengalihkan kendaraan ke rute lain yaitu dari rute macet ke rute yang tidak macet,
3. Penambahan fasilitas jalan seperti pembuatan U-Turn,
4. Pembangunan jalur kereta api dibuat UNDERPASS(bawah tanah) yang diatasnya jalur UNDERPASS kereta api bisa dibangun untuk jalan tidak bermotor atau jalan khusus pejalan kaki dan sepeda angin atau sebagai jalur park & ride (lokasi parkir kendaraan yang akan menggunakan angkutan umum)

Analisis Persimpangan
Perhitungan volume dilakukan pada waktu pagi, siang dan sore yaitu jam 06.00 - 09.00 WIB, 11.00 - 13.00 WIB dan 16.00 -€“ 19.00 WIB. PerSimpangan dibagi menjadi beberapa pos pemantauan yang bertujuan untuk menghitung volume kendaraan yang masuk dan keluar di tiap-tiap ruas jalan. Hasil survei di lapangan tersebut ditunjukkan dalam tabel berikut ini.

Tabel . Volume dan Kapasitas





 Gambar Derajat Kejenuhan 
Berdasarkan gambar  disimpulkan nilai derajat kejenuhan selama peak pagi, siang dan sore berada pada LOS F. Kondisi ini merupakan kondisi yang sangat Buruk. Pada pagi hari ruas jalan WONOKROMO-RSAL mengalami kemacetan yang tinggi dengan nilai DS = 1,28 dengan panjang antrian sebesar 700 meter. Pada siang hari nilai DS tertinggi dialami oleh ruas jalanBRIGJEN KATAMSO dengan DS = 1,19 dan pada sore hari ruas jalanBRIGJEN KATAMSO masih menduduki nilai DS = 1,21. Dimana nilai derajat kejenuhan DS ≥ 1, berada Tingkat Pelayanan Jalan LOS F (sangat buruk)

Tahapan Perencanaan Manajemen Lalu Lintas
                Bentuk penanganan yang dilakukan pada wilayah penelitian perlu dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan berdasarkan tingkat kesulitan terkait dengan perbaikan kondisi yang ada. Perlunya perencanaan yang sistematis mengenai usulan rencana penanganan permasalahan yang didasarkan pada tingkatan tahun disebabkan oleh:
 1. Tingkatan kemudahan atau kesulitan pada saat melakukan penangana.
 2. Besarnya biaya dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun kedepan.
 3. Perlunya perencanaan strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang agar permasalahan di PerSimpangan dapat teratasi dengan baik dan tepat sasaran.

Hasil Penerapan Perencanaan Manajemen Lalu Lintas 
                 Perencanaan perbaikan Manajemen Lalu Lintas dilakukan sebagai solusi penanganan guna meningkatkan nilai derajat kejenuhan yang terjadi pada perSimpangan yang semula berada di LOS F, ditingkatkan menjadi LOS C atau B.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah :
 1. Kondisi eksisting di tiap-tiap ruas jalan di sekitar PerSimpangan memiliki permasalahan yang hampir sama baik di bagian Barat, Timur, Utara, Selatan. Permasalahan tersebut adaLah karena adanya jalur Kereta api pada ruas jalan Achmad Yani yang berada pada jalur sebidang dan persimpangan dari jalan frontage road yang menambah keruwetan di jalur ini saat jam jam sibuk berbarengan dengan kereta api yang melintas
2.  Diharapkan rencana pembangunan underpass di jalan achmad yani tepatnya di bundaran dolog dengan jarak 860meter dibatalkan karena peembangunan ini tidak akan punya efek signifikan dalam mengurangi kemacetan di persimpangan jalur kereta api dan mengalihkan pembangunan underpass di jalur kereta apinya karena permasalahan kemacetan di ruas ini ada pada tiap persimpangan jalur kereta api

 2. Usulan yang diusulkan dibagi menjadi 2 periode waktu, yaitu: 

a) Periode 1 Tahun Kedepan (Jangka Pendek)

# Perlunya pemantauan dan perbaikan terhadap kondisi rambu dan marka.
# Perlu adanya pembersihan hambatan simpang
# Perlu adanya pengaturan parkir
# Perlu dilakukannya evaluasi ulang terkait waktu siklus APILL.
# Perlu ditambahkannya pos- pos pemantauan polisi lalu lintas yang mampu memberiksan sanksi tegas terhadap pengemudi yang melakukan pelanggaran.

 b) Periode 2-5 Tahun Kedepan (Jangka Menengah dan panjang)
# Perlu dibangunnya Jalur UNDERPASS/FLYOVER kereta api dari Waru Hingga Wonokromo karena seperti kita ketahui pembangunan frontage road yang ada saat ini dengan harapan dapat menambah kapasitas jalan tetap tidak bisa memberi solusi kemacetan yang terjadi  karena permasalahan kemacetan selama ini yaitu adanya jalur persimpangan sebidang kereta api yang luput dari penelitian. 
# diatasnya jalur UNDERPASS kereta api atau dibawah flyover  bisa dibangun untuk jalan tidak bermotor atau jalan khusus pejalan kaki dan sepeda angin atau sebagai jalur park & ride (parkir kendaraan yang melanjutkan ke jalur angkutan umum) disepanjang jalur Underpass/flyver kereta api
# Perlu dibangunnya lahan parkir tersendiri bagi kegiatan perdagangan.
# Perlu dibuatnya U-Turn.
# Perlu diberlakukan pembatasan kendaraan yang akan melintas di ruas ini misalnya untuk truk dengan tonase diatas 6ton
# Perlunya penertiban kegiatan pasar yang ilegal seperti PKL yang menempati bahu jalan ,trotoar atau yang tidak pada tempatnya disekitar pasar wonokromo
#Perlu dibangunnya TOL dalam kota dari Waru ke Wonokromo agar ada alternatif jalan menuju pusat kota, tol ini dapat dibangun diatas jalur rel kereta api dari pagesangan hingga wonokromo
Diharapkan Setelah dilakukan penerapan perencanaan Manajemen Lalu Lintas, tingkat pelayanan jalan di masing-masing ruas jalan yang semula berada di LOS F menjadi LOS C. Pada masing-masing ruas jalan raya pada siang dan sore hari berubah menjadi LOS C hingga LoS B

Adapun beberapa saran untuk meningkatkan kinerja PerSimpangan yaitu:
 1. Perlunya adanya monitoring dan evaluasi terhadap volume persimpangan secara rutin. Hal tersebut dimaksudkan agar mempunyai data volume persimpangan yang selalu up to date sehingga data tersebut berguna untuk manajemen dan rekayasa lalu lintas dalam ruas ini.
2. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan pada persimpangan lain yang  dilengkapi dengan APILL, sehingga dapat mengurangi tundaan.



DAFTAR PUSTAKA

1. (1996) Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan dalam Trayek Tetap dan Teratur, Dephub. Jakarta: Dijenhubdat.
2.  (1997) Perencanaan Sistem Angkutan Umum (Public Transport System Planning), Modul Pelatihan LPM. Bandung: ITB.
3. Abubakar, Iskandar (1996) Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang Tertib. Dirjenhubdat, Jakarta: PT. Bukit Mayana.
4. Armstrong, Alan, Urban Transyt Systems–Guidelines for Examining Options, World Bank Technical Papers Number 52.
5. Kadiyali, L.R. (1978) Traffic Engineering and Transport Planning. New Delhi: Khanna Publisher. 6. Miro, Fidel (2005) Perencanaan Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
7. Ortuzar & Willumsen (1990) Modelling Transport. England: John Wiley and Sons. 8. Tamin, Ofyar

Kamis, 15 September 2016

TAMAN ABHIRUPA DI SIMPANGLIMA KRIAN

EVALUASI KINERJA SIMPANGLIMA KRIAN 
DAN SOLUSI PEMECAHAN MASALAHNYA
 SUPRIYANTO,SE  
PEMERHATI TATA RUANG KOTA
  
   Simpang Lima Krian merupakan salah satu persimpangan di Kabupaten Sidoarjo yang mengalami  permasalahan lalu lintas, yaitu kemacetan. Hal ini terjadi karena kapasitas Simpang Lima Krian sudah tidak mampu lagi menampung volume kendaraan yang melintas. Dalam hal ini perlu diketahui kondisi eksisting dan upaya yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas persimpangan, sehingga meminimalisir kemungkinan kemacetan lalu lintas yang terjadi.
                                  Metode yang digunakan adalah survei lalu lintas, untuk mengetahui volume kendaraan yang melintas di Simpang Lima Krian pada saat jam puncak, yaitu 06.00-09.00; 11.00-13.00 dan 16.00-17.00 WIB. Pelaksanaan survei ini dengan melibatkan surveyor yang menempati Pos Pengamatan di lokasi studi.  
        Hasil dari penelitian ini adalah kinerja Simpang Lima Krian masuk dalam kategori LOS F yang berarti kinerja simpang buruk. Dari hasil survei   trafic counting dan identifikasi masalah di lapangan, dapat dibuat  perencanaan strategi penanganan dengan Manajemen Lalu Lintas yang dibagi menjadi 3 periode yaitu jangka  pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk strategi jangka pendek ditambah dengan perubahan  pengaturan waktu siklus menjadi 70 detik, waktu hijau 30 detik dan waktu merah 40 detik, tingkat pelayanan di masing-masing ruas jalan yang semula berada di LOS F berubah menjadi LOS C dan LOS B. Pada ruas.

BAB I PENDAHULUAN

        Simpang Lima Krian merupakan salah satu simpang yang dikendalikan oleh APILL (Alat Pengendali Isyarat Lampu Lalu lintas) dan memiliki akses cukup tinggi dalam mendukung perekonomian wilayah Jawa Timur. Hal ini disebabkan karena volume kendaraan yang melintas pada simpang ini banyak dan didominasi oleh kendaraan berat. Pada ruas Jalan Raya Imam Bonjol (arah Ke Mojokerto) menuju ke ruas Jalan Raya Basuki Rahmat (arah Ke Surabaya) selalu mengalami kemacetan yang luar biasa setiap hari. Pemanfaatan lahan di sisi kanan dan kiri bahu jalan yang padat dengan kegiatan pasar tradisional, PKL, toko, tempat ibadah, pemukiman menyebabkan antrian yang cukup panjang selalu terjadi dan meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan sumber data dari Departemen Perhubungan Provinsi Jawa Timur diperoleh bahwa volume lalu lintas tahun 2015 yang melintas adalah 18.722 kendaraan setiap harinya sedangkan kapasitasnya hanya mampu menampung 5540 kendaraan. Ketidakmampuan simpang inilah yang akhirnya menyebabkan antrian yang cukup panjang dan memerlukan penanganan penyelesaian permasalahan dalam penelitian dengan judul €œEvaluasi Kinerja Simpang Lima Krian dan solusi Pemecahan masalahnya Di Kabupaten Sidoarjo.

Lokasi Kegiatan 
  
 TUJUAN
          Tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Mengetahui kondisi eksisting di Simpang Lima Krian.
 2. Mengetahui usulan penanganan lalu lintas yang tepat, sehingga dapat meningkatkan kinerja Simpang Lima Krian.

MANFAAT
          Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Dapat diketahui permasalahan yang ada di Simpang Lima Krian, guna penetapan perencanaan perbaikan kedepannya.
2. Dapat memberikan masukan kepada pihak terkait dalam hal ini Dinas Perhubungan Bidang Lalu Lintas Provinsi Jawa Timur.

Manajemen Lalu Lintas
           Manajemen lalu lintas adalah pengelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dengan melakukan optimasi penggunaan prasarana yang ada melalui peredaman atau pengecilan tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan. Kebijakan transportasi perkotaan dikembangkan dan diarahkan dalam kerangka tertentu, yakni dengan mempertahankan kualitas lingkungan serta dengan mengembangkan €œManajemen Lalu Lintas€ dengan mengoptimalkan fasilitas yang ada, perbaikan pengaturan lalu lintas serta menghindari pembangunan fisik seperti pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan. Manajemen lalu lintas merupakan salah satu tugas yang diserahkan untuk diselenggarakan oleh aparat Daerah Tingkat I untuk jalan propinsi dan aparat Daerah Tingkat II untuk jalan kabupaten/kotamadya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1990 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada Daerah Tingkat I dan Tingkat II.

Tujuan Manajemen Lalu Lintas
              Tujuan dengan dilakukannya Manajemen Lalu Lintas adalah:
1. Mendapatkan tingkat efisiensi dari pergerakan lalu lintas secara menyeluruh, dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi, menyeimbangkan permintaan dengan sarana penunjang yang tersedia.
2. Meningkatkan tingkat keselamatan dari pengguna yang dapat diterima oleh semua pihak dan memperbaiki tingkat keselamatan tersebut dengan baik.
 3. Melindungi dan memperbaiki keadaan dan kondisi lingkungan dimana arus lalu lintas tersebut berada.
 4. Mempromosikan penggunaan energi secara efisien ataupun penggunaan energi lain yang dampak negatifnya lebih kecil daripada energi yang ada.

Sasaran Manajemen Lalu Lintas
               Sasaran dari Manajemen Lalu Lintas adalah:
1. Mengatur dan menyederhanakan lalu lintas dengan melakukan pemisahan tipe, kecepatan dan pemakai jalan yang berbeda untuk meminimumkan gangguan terhadap lalu lintas.
2. Mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dengan menaikkan kapasitas atau mengurangi volume lalu lintas pada suatu jalan. Melakukan optimasi ruas jalan dengan menentukan fungsi dari jalan dan kontrol terhadap aktivitas-aktivitas yang tidak cocok dengan fungsi jalan tersebut.

Strategi dan Teknik Manajemen Lalu Lintas
                Analisis penyebab kemacetan lalu lintas dapat ditandai dengan:
a. Kemacetan lalu lintas disebabkan volume lalu lintas melebihi kapasitas yang ada pada ruas jalan dan persimpangan
b. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menaikkan kapasitas atau mengurangi volume lalu lintas. Dalam hal ini kapasitas dapat diperbaiki dengan jalan mengurangi penyebab gangguan, misalnya dengan memindahkan tempat parkir, mengontrol pejalan kaki atau dengan memindahkan lalu lintas ke rute lainnya atau dengan cara pengaturan yang lain seperti membuat jalan satu arah.

Gambar Kriteria Penentuan Pengaturan Persimpangan

Tingkat Pelayanan (Level of Service LOS) Berdasarkan V/C Rasio atau DS
 Sumber: MKJI, 1997

BAB III METODE
                Beberapa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Tingkat Pelayanan Karakteristik Batas Lingkup V/C A Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi, pengemudi dapat memilih kecepatan yang diinginkan tanpa hambatan. 0,00 - 0,20 B Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas, pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan. 0,20 -€“ 0,44 C Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. 0,45 -€“ 0,74 D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, V/C masih dapat ditolerir. 0,75 -€“ 0,84 E Volume lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas, arus tidak stabil, kecepatan terkadang terhenti. 0,85 -€“ 1,00 F Arus yang dipaksakan atau macet, kecepatan rendah, volume diatas kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-€“ hambatan besar.

1. Metode Observasi Lapangan
                Metode ini dilakukan dengan pengumpulan data di lapangan dengan melakukan pengamatan secara langsung pada kondisi eksisting simpang. Data yang diperoleh adalah jumlah kendaraan yang melewati simpang, geometrik simpang, tata guna lahan disekitar simpang, waktu siklus, jumlah fase, jenis perkerasan jalan, dan kelas jalan.

2. Metode Dokumentasi
               Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan di lokasi penelitianyang kemudian di dokumentasikan. Hal ini perlu dilakukan guna menunjukkan apabila kinerja simpang tersebut buruk maka pemotretan dilakukan pada waktu terjadinya kemacetan. Pelaksanaan survei perhitungan volume kendaraan yang melintas dilakukan di masing-masing kaki Simpang Lima Krian, dimana data tersebut digunakan untuk mengoptimalkan kinerja Simpang Lima Krian Kabupaten Sidoarjo. Survei dilaksanakan pada hari senin tanggal 2 Desember 2015, dimana pada hari senin dilakukan pada jam 06.00 - 09.00 WIB, 11.00 - 13.00 WIB dan 16.00 -€“ 19.00 WIB. Data yang sudah diperoleh dalam survei primer, kemudian diolah dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, rumus yang sesuai dan referensi lain yang terkait
[MKJI, 1997].

 BAB IV PEMBAHASAN 

Kondisi Eksisting Simpang Lima Krian 

DALAM HAL INI PENULIS AKAN MEMBERIKAN 2 SOLUSI PEMBANGUNAN SIMPANGLIMA KRIAN

 1.TETAP SEBAGAI SIMPANGLIMA KRIAN
 2.DIRUBAH MENJADI SIMPANG EMPAT KRIAN



 Struktur jalan

1. Barat (Jl. Raya Imam Bonjol€“ arah ke Mojokerto) Jalan Raya Imam Bonjol merupakan salah satu akses penghubung Sidoarjo€“ ke arah Mojokerto. Ruas jalan ini banyak dilalui berbagai jenis kendaraan mulai dari kendaraan kecil sampai dengan besar. Lebar badan jalan total 12,50 m yang dibagi menjadi 4 lajur 2 arah tanpa adanya median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. Dilihat dari lebar badan jalan yang hanya 6,20 m, pada masing-masing arah berlawanan, seringkali pada saat peak hour kapasitas ruas jalan ini kurang dapat menampung volume kendaraan yang melintas. Pemanfaatan tata guna lahan di sekitar ruas jalan yang komersial berupa pasar tradisonal, kawasan perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dan perumahan padat penduduk semakin memperburuk permasalahan yang terjadi. Karena persentase himpitan yang begitu besar antara kendaraan yang melintas dengan pejalan kaki, ditambah dengan adanya APILL menambah panjang antrian kendaraan yang terjadi, maka Perlu adanya penyediaan bahu jalan, trotoar ,dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .
2. Timur (Jl Raya Basuki Rahmat€“ Arah Ke Surabaya) Jalan Raya Basuki Rahmat merupakan salah satu ruas jalan yang cukup padat. Hal ini dilihat dari volume lalu lintas yang cukup ramai ditambah dengan adanya kawasan pertokoan (pasar), tempat ibadah, PKL dan pemukiman liar. Lebar badan jalan pada ruas jalan ini adalah 14,55 meter terdiri dari 4 lajur 2 arah, berlawanan tanpa adanya median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. . Masing-masing arah berlawanan lebar badan jalan hanya berkisar 7,25 meter. Sama halnya dengan ruas Jalan Raya Imam Bonjol, Jalan Raya Basuki Rahmat merupakan salah satu akses penghubung Mojokerto ke Sidoarjo/ Surabaya. Untuk itu perlu adanya perbaikan kinerja ruas jalan sebagai salah satu rangkaian kinerja Simpang Lima Krian agar permasalahan yang selama ini terjadi dapat diatasi yaitu Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini . 
3. Utara (Jl. Gub Sunandar) Jalan Raya Gub. Sunandar merupakan salah satu ruas jalan yang kurang efektif jika dilihat dari lebar badan jalan yang hanya 6,90 meter (2 lajur 2 arah, tanpa adanya median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. ). Permasalahan yang timbul pada ruas jalan ini adalah volume kendaraan banyak yang melewati ruas jalan ini mulai kendaraan kecil sampai besar. Hal ini tidak sebanding dengan lebar badan jalan yang hanya 6,90 meter dan terdiri dari dua arah yang berlawanan, sehingga Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini , Perbaikan ruas dengan pelebaran badan jalan dilakukan berdasarkan perhitungan MKJI.
 4. Selatan (Jl KH. Dewantoro Arah Ke Mojosari) Ruas jalan ini merupakan ruas yang memiliki peranan yang penting dalam menghubungkan Surabaya/Sidoarjo ke Mojosari. Hal ini dilihat dari fungsi jalan berupa jalan penghubung (by pass). Pemanfaatan ruas jalan di sekitar berupa kawasan pertokoan dan perumahan padat penduduk, banyak menimbulkan kendala dalam sistem transportasi. Lebar badan jalan adalah 12,00 meter terdiri dari 4 lajur 2 arah tanpa median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. . Ruas jalan ini banyak dilalui kendaraan mulai dari kendaraan kecil sampai besar ,maka Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .
5. Selatan (Jl. M. Yamin) Ruas jalan M. Yamin memiliki lebar badan jalan 8,55 meter yang terdiri dari 2 lajur 2 arah tanpa median jalan ,bahu jalan,dan trotoar . Lebar badan jalan yang kurang lebar menyebabkan kendaraan dari arah Surabaya maupun Mojokerto tidak diperbolehkan melewati ruas jalan ini, hanya lyn dan sepeda motor saja yang bisa melewati ruas jalan M.Yamin. Permasalahan transportasi pada Simpang Lima Krian merupakan salah satu permasalahan simpang yang sering terjadi pada simpang-simpang lainnya ,maka Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .Untuk jalan M.Yamin diusulkan untuk ditutup di ujung jalannya dan didirikan pos polisi secara permanen,berikut gambaran ruas jalan perkotaan di krian.



            Oleh sebab itu diperlukan suatu pengukuran tingkat pelayanan kinerja Simpang Lima Krian yang bertujuan untuk lebih mengoptimalkan kinerja simpang menjadi lebih baik lagi. Hasil perhitungan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif-alternatif pilihan terkait penanganan, misalnya:
 1. Pengoptimalan prasarana yang ada saat ini,
 2. Mengalihkan kendaraan ke rute lain yaitu dari rute macet ke rute yang tidak macet,
 3. Penambahan fasilitas jalan seperti pembuatan U-Turn ,median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .

Analisis Persimpangan
Perhitungan volume dilakukan pada waktu pagi, siang dan sore yaitu jam 06.00 - 09.00 WIB, 11.00 - 13.00 WIB dan 16.00 -€“ 19.00 WIB. Simpang Lima Krian dibagi menjadi beberapa pos pemantauan yang bertujuan untuk menghitung volume kendaraan yang masuk dan keluar di tiap-tiap ruas jalan. Hasil survei di lapangan tersebut ditunjukkan dalam tabel berikut ini.

Tabel . Volume dan Kapasitas
 Gambar Derajat Kejenuhan 
Berdasarkan gambar  disimpulkan nilai derajat kejenuhan selama peak pagi, siang dan sore berada pada LOS F. Kondisi ini merupakan kondisi yang sangat Buruk€. Pada pagi hari ruas jalan raya basuki rahmat mengalami kemacetan yang tinggi dengan nilai DS = 1,28 dengan panjang antrian sebesar 700 meter. Pada siang hari nilai DS tertinggi dialami oleh ruas jalan raya Imam Bonjol dengan DS = 1,19 dan pada sore hari ruas jalan raya Imam Bonjol masih menduduki nilai DS = 1,21. Dimana nilai derajat kejenuhan DS ≥ 1, berada Tingkat Pelayanan Jalan LOS F (sangat buruk)

Tahapan Perencanaan Manajemen Lalu Lintas
                Bentuk penanganan yang dilakukan pada wilayah penelitian perlu dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan berdasarkan tingkat kesulitan terkait dengan perbaikan kondisi yang ada. Perlunya perencanaan yang sistematis mengenai usulan rencana penanganan permasalahan yang didasarkan pada tingkatan tahun disebabkan oleh:
 1. Tingkatan kemudahan atau kesulitan pada saat melakukan penangana.
 2. Besarnya biaya dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun kedepan.
 3. Perlunya perencanaan strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang agar permaslahan di Simpang Lima Krian dapat teratasi dengan baik dan tepat sasaran.

Hasil Penerapan Perencanaan Manajemen Lalu Lintas 
                 Perencanaan perbaikan €œManajemen Lalu Lintas dilakukan sebagai solusi penanganan guna meningkatkan nilai derajat kejenuhan yang terjadi pada Simpang Lima Krian yang semula berada di LOS F, ditingkatkan menjadi LOS C atau B.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah :
 1. Kondisi eksisting di tiap-tiap ruas jalan di sekitar Simpang Lima Krian memiliki permasalahan yang hampir sama baik di bagian Barat, Timur, Utara, Selatan. Permasalahan tersebut adaLah:
- Lebar badan jalan yang kurang memadai dan dibagi menjadi 4 lajur 2 arah.
-adanya persimpangan yang saling berdekatan antara jalan Basuki Rahmat ,  M.Yamin dan Jalan Kihajar Dewantara maka perlu adanya sebuah taman yang berada ditengah -tengah simpang yang berfungsi sebagai space antar jalan agar lebih tertata dan berfungsi sebagai putar balik atau U-turn
- Belum adanya pengaturan terkait pemanfaatan lahan di ruas jalan raya ini, kondisi semakin buruk karena pemanfaatan lahan memiliki nilai komersial.
 - Pengaturan waktu pada APILL kurang maksimal. - Masih banyak terjadi crossing dan pelanggaran lalu lintas.
- Terdapat tempat ibadah.
 - Kepadatan permukiman yang kecil.
 - Pada ruas Jalan KH Dewantoro merupakan jalan penghubung yang cepat (by pass).

 2. Usulan yang diusulkan dibagi menjadi 2 periode waktu, yaitu: 

a) Periode 1 Tahun Kedepan (Jangka Pendek) 

# Perlu dilakukan perkerasan bahu jalan dan pelebaran perkerasan bahu jalan sepanjang 1,5 meter di ruas jalan Gub. Sunandar .
# Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan,dan trotoar , median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .  .
# Perlunya pemantauan dan perbaikan terhadap kondisi rambu dan marka.
# Perlu adanya pembersihan hambatan samping.
# Perlu adanya pengaturan parkir
# Perlu dilakukannya evaluasi ulang terkait waktu siklus APILL.
# Perlu ditambahkannya pos- pos pemantauan polisi lalu lintas yang mampu memberiksan sanksi tegas terhadap pengemudi yang melakukan pelanggaran.

 b) Periode 3-5 Tahun Kedepan (Jangka Menengah dan panjang)
# Perlu dibangunnya lahan parkir tersendiri bagi kegiatan perdagangan.
# Perlu dibuatnya U-Turn.
# Perlu dibangun jalan dengan lebar masing-masing ruas minimal 20meter yang terbagi 4 lajur 2 arah dan dibatasi median jalan berpeneduh dan masing-masing sisinya terdapat trotoar berpeneduh.
# Perlu diberlakukan pembatasan kendaraan yang akan melintas di ruas Jalan Gubernur Sunandar.
# Perlunya penertiban kegiatan pasar yang ilegal seperti PKL yang menempati bahu jalan ,trotoar atau yang tidak pada tempatnya
# Perlu adanya pelebaran badan jalan.
# Perlu adanya pembuatan jalur baru yang merubah kondisi existing jalan M.Yamin dan pelebaran jalan dimasing-masing ruas.
# Perlu adanya pembangunan taman alon-alon ditengah titik pusat simpanglima dapat mencontoh kawasan simpanglima semarang atau simpanglima gumul kediri.
# Perlu adanya median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini , dan pengaturan atau pemanfaatan APILL lebih optimal.



Diharapkan Setelah dilakukan penerapan perencanaan Manajemen Lalu Lintas, tingkat pelayanan jalan di masing-masing ruas jalan yang semula berada di LOS F menjadi LOS C. Pada masing-masing ruas jalan raya pada siang dan sore hari berubah menjadi LOS C hingga LoS B

Adapun beberapa saran untuk meningkatkan kinerja Simpang Lima Krian yaitu:
 1. Perlunya adanya monitoring dan evaluasi terhadap volume persimpangan secara rutin. Hal tersebut dimaksudkan agar mempunyai data volume persimpangan yang selalu up to date sehingga data tersebut berguna untuk manajemen dan rekayasa lalu lintas dalam wilayah simpanglima Krian. 2. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan pada persimpangan lain yang dilengkapi dengan APILL, sehingga dapat mengurangi tundaan.


DAFTAR PUSTAKA

1. (1996) Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan dalam Trayek Tetap dan Teratur, Dephub. Jakarta: Dijenhubdat.
2.  (1997) Perencanaan Sistem Angkutan Umum (Public Transport System Planning), Modul Pelatihan LPM. Bandung: ITB.
3. Abubakar, Iskandar (1996) Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang Tertib. Dirjenhubdat, Jakarta: PT. Bukit Mayana.
4. Armstrong, Alan, Urban Transyt Systems–Guidelines for Examining Options, World Bank Technical Papers Number 52.
5. Kadiyali, L.R. (1978) Traffic Engineering and Transport Planning. New Delhi: Khanna Publisher. 6. Miro, Fidel (2005) Perencanaan Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
7. Ortuzar & Willumsen (1990) Modelling Transport. England: John Wiley and Sons. 8. Tamin, Ofyar Z. (2000) Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung
8.Permodelan Simpanglima semarang dan simpanglima gumul kediri
  

Rabu, 14 September 2016

EVALUASI KINERJA SIMPANGLIMA KRIAN DAN SOLUSI PEMECAHAN MASALAHNYA


EVALUASI KINERJA SIMPANGLIMA KRIAN 
DAN SOLUSI PEMECAHAN MASALAHNYA

 SUPRIYANTO,SE  
PEMERHATI TATA RUANG KOTA

  
   Simpang Lima Krian merupakan salah satu persimpangan di Kabupaten Sidoarjo yang mengalami  permasalahan lalu lintas, yaitu kemacetan. Hal ini terjadi karena kapasitas Simpang Lima Krian sudah tidak mampu lagi menampung volume kendaraan yang melintas. Dalam hal ini perlu diketahui kondisi eksisting dan upaya yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas persimpangan, sehingga meminimalisir kemungkinan kemacetan lalu lintas yang terjadi.
                                  Metode yang digunakan adalah survei lalu lintas, untuk mengetahui volume kendaraan yang melintas di Simpang Lima Krian pada saat jam puncak, yaitu 06.00-09.00; 11.00-13.00 dan 16.00-17.00 WIB. Pelaksanaan survei ini dengan melibatkan surveyor yang menempati Pos Pengamatan di lokasi studi.  
        Hasil dari penelitian ini adalah kinerja Simpang Lima Krian masuk dalam kategori LOS F yang berarti kinerja simpang buruk. Dari hasil survei   trafic counting dan identifikasi masalah di lapangan, dapat dibuat  perencanaan strategi penanganan dengan Manajemen Lalu Lintas yang dibagi menjadi 3 periode yaitu jangka  pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk strategi jangka pendek ditambah dengan perubahan  pengaturan waktu siklus menjadi 70 detik, waktu hijau 30 detik dan waktu merah 40 detik, tingkat pelayanan di masing-masing ruas jalan yang semula berada di LOS F berubah menjadi LOS C dan LOS B. Pada ruas.

BAB I PENDAHULUAN

        Simpang Lima Krian merupakan salah satu simpang yang dikendalikan oleh APILL (Alat Pengendali Isyarat Lampu Lalu lintas) dan memiliki akses cukup tinggi dalam mendukung perekonomian wilayah Jawa Timur. Hal ini disebabkan karena volume kendaraan yang melintas pada simpang ini banyak dan didominasi oleh kendaraan berat. Pada ruas Jalan Raya Imam Bonjol (arah Ke Mojokerto) menuju ke ruas Jalan Raya Basuki Rahmat (arah Ke Surabaya) selalu mengalami kemacetan yang luar biasa setiap hari. Pemanfaatan lahan di sisi kanan dan kiri bahu jalan yang padat dengan kegiatan pasar tradisional, PKL, toko, tempat ibadah, pemukiman menyebabkan antrian yang cukup panjang selalu terjadi dan meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan sumber data dari Departemen Perhubungan Provinsi Jawa Timur diperoleh bahwa volume lalu lintas tahun 2015 yang melintas adalah 18.722 kendaraan setiap harinya sedangkan kapasitasnya hanya mampu menampung 5540 kendaraan. Ketidakmampuan simpang inilah yang akhirnya menyebabkan antrian yang cukup panjang dan memerlukan penanganan penyelesaian permasalahan dalam penelitian dengan judul €œEvaluasi Kinerja Simpang Lima Krian dan solusi Pemecahan masalahnya Di Kabupaten Sidoarjo.

Lokasi Kegiatan 

 

TUJUAN
          Tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Mengetahui kondisi eksisting di Simpang Lima Krian.
 2. Mengetahui usulan penanganan lalu lintas yang tepat, sehingga dapat meningkatkan kinerja Simpang Lima Krian.

MANFAAT
          Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Dapat diketahui permasalahan yang ada di Simpang Lima Krian, guna penetapan perencanaan perbaikan kedepannya.
2. Dapat memberikan masukan kepada pihak terkait dalam hal ini Dinas Perhubungan Bidang Lalu Lintas Provinsi Jawa Timur.

Manajemen Lalu Lintas
           Manajemen lalu lintas adalah pengelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dengan melakukan optimasi penggunaan prasarana yang ada melalui peredaman atau pengecilan tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan. Kebijakan transportasi perkotaan dikembangkan dan diarahkan dalam kerangka tertentu, yakni dengan mempertahankan kualitas lingkungan serta dengan mengembangkan €œManajemen Lalu Lintas€ dengan mengoptimalkan fasilitas yang ada, perbaikan pengaturan lalu lintas serta menghindari pembangunan fisik seperti pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan. Manajemen lalu lintas merupakan salah satu tugas yang diserahkan untuk diselenggarakan oleh aparat Daerah Tingkat I untuk jalan propinsi dan aparat Daerah Tingkat II untuk jalan kabupaten/kotamadya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1990 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintah dalam Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada Daerah Tingkat I dan Tingkat II.

Tujuan Manajemen Lalu Lintas
              Tujuan dengan dilakukannya Manajemen Lalu Lintas adalah:
1. Mendapatkan tingkat efisiensi dari pergerakan lalu lintas secara menyeluruh, dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi, menyeimbangkan permintaan dengan sarana penunjang yang tersedia.
2. Meningkatkan tingkat keselamatan dari pengguna yang dapat diterima oleh semua pihak dan memperbaiki tingkat keselamatan tersebut dengan baik.
 3. Melindungi dan memperbaiki keadaan dan kondisi lingkungan dimana arus lalu lintas tersebut berada.
 4. Mempromosikan penggunaan energi secara efisien ataupun penggunaan energi lain yang dampak negatifnya lebih kecil daripada energi yang ada.

Sasaran Manajemen Lalu Lintas
               Sasaran dari Manajemen Lalu Lintas adalah:
1. Mengatur dan menyederhanakan lalu lintas dengan melakukan pemisahan tipe, kecepatan dan pemakai jalan yang berbeda untuk meminimumkan gangguan terhadap lalu lintas.
2. Mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dengan menaikkan kapasitas atau mengurangi volume lalu lintas pada suatu jalan. Melakukan optimasi ruas jalan dengan menentukan fungsi dari jalan dan kontrol terhadap aktivitas-aktivitas yang tidak cocok dengan fungsi jalan tersebut.

Strategi dan Teknik Manajemen Lalu Lintas
                Analisis penyebab kemacetan lalu lintas dapat ditandai dengan:
a. Kemacetan lalu lintas disebabkan volume lalu lintas melebihi kapasitas yang ada pada ruas jalan dan persimpangan
b. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menaikkan kapasitas atau mengurangi volume lalu lintas. Dalam hal ini kapasitas dapat diperbaiki dengan jalan mengurangi penyebab gangguan, misalnya dengan memindahkan tempat parkir, mengontrol pejalan kaki atau dengan memindahkan lalu lintas ke rute lainnya atau dengan cara pengaturan yang lain seperti membuat jalan satu arah.


Gambar Kriteria Penentuan Pengaturan Persimpangan





  Tingkat Pelayanan (Level of Service LOS) Berdasarkan V/C Rasio atau DS
 Sumber: MKJI, 1997

BAB III METODE
                Beberapa metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Tingkat Pelayanan Karakteristik Batas Lingkup V/C A Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi, pengemudi dapat memilih kecepatan yang diinginkan tanpa hambatan. 0,00 - 0,20 B Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas, pengemudi memiliki kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan. 0,20 -€“ 0,44 C Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. 0,45 -€“ 0,74 D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih dikendalikan, V/C masih dapat ditolerir. 0,75 -€“ 0,84 E Volume lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas, arus tidak stabil, kecepatan terkadang terhenti. 0,85 -€“ 1,00 F Arus yang dipaksakan atau macet, kecepatan rendah, volume diatas kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-€“ hambatan besar.

1. Metode Observasi Lapangan
                Metode ini dilakukan dengan pengumpulan data di lapangan dengan melakukan pengamatan secara langsung pada kondisi eksisting simpang. Data yang diperoleh adalah jumlah kendaraan yang melewati simpang, geometrik simpang, tata guna lahan disekitar simpang, waktu siklus, jumlah fase, jenis perkerasan jalan, dan kelas jalan.

2. Metode Dokumentasi
               Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan di lokasi penelitianyang kemudian di dokumentasikan. Hal ini perlu dilakukan guna menunjukkan apabila kinerja simpang tersebut buruk maka pemotretan dilakukan pada waktu terjadinya kemacetan. Pelaksanaan survei perhitungan volume kendaraan yang melintas dilakukan di masing-masing kaki Simpang Lima Krian, dimana data tersebut digunakan untuk mengoptimalkan kinerja Simpang Lima Krian Kabupaten Sidoarjo. Survei dilaksanakan pada hari senin tanggal 2 Desember 2015, dimana pada hari senin dilakukan pada jam 06.00 - 09.00 WIB, 11.00 - 13.00 WIB dan 16.00 -€“ 19.00 WIB. Data yang sudah diperoleh dalam survei primer, kemudian diolah dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, rumus yang sesuai dan referensi lain yang terkait
[MKJI, 1997].

 BAB IV PEMBAHASAN 

Kondisi Eksisting Simpang Lima Krian 

DALAM HAL INI PENULIS AKAN MEMBERIKAN 2 SOLUSI PEMBANGUNAN SIMPANGLIMA KRIAN

 1.TETAP SEBAGAI SIMPANGLIMA



2.DIRUBAH MENJADI SIMPANG EMPAT




Struktur jalan

1. Barat (Jl. Raya Imam Bonjol€“ arah ke Mojokerto) Jalan Raya Imam Bonjol merupakan salah satu akses penghubung Sidoarjo€“ ke arah Mojokerto. Ruas jalan ini banyak dilalui berbagai jenis kendaraan mulai dari kendaraan kecil sampai dengan besar. Lebar badan jalan total 12,50 m yang dibagi menjadi 4 lajur 2 arah tanpa adanya median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. Dilihat dari lebar badan jalan yang hanya 6,20 m, pada masing-masing arah berlawanan, seringkali pada saat peak hour kapasitas ruas jalan ini kurang dapat menampung volume kendaraan yang melintas. Pemanfaatan tata guna lahan di sekitar ruas jalan yang komersial berupa pasar tradisonal, kawasan perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dan perumahan padat penduduk semakin memperburuk permasalahan yang terjadi. Karena persentase himpitan yang begitu besar antara kendaraan yang melintas dengan pejalan kaki, ditambah dengan adanya APILL menambah panjang antrian kendaraan yang terjadi, maka Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar ,dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .
2. Timur (Jl Raya Basuki Rahmat€“ Arah Ke Surabaya) Jalan Raya Basuki Rahmat merupakan salah satu ruas jalan yang cukup padat. Hal ini dilihat dari volume lalu lintas yang cukup ramai ditambah dengan adanya kawasan pertokoan (pasar), tempat ibadah, PKL dan pemukiman liar. Lebar badan jalan pada ruas jalan ini adalah 14,55 meter terdiri dari 4 lajur 2 arah, berlawanan tanpa adanya median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. . Masing-masing arah berlawanan lebar badan jalan hanya berkisar 7,25 meter. Sama halnya dengan ruas Jalan Raya Imam Bonjol, Jalan Raya Basuki Rahmat merupakan salah satu akses penghubung Mojokerto ke Sidoarjo/ Surabaya. Untuk itu perlu adanya perbaikan kinerja ruas jalan sebagai salah satu rangkaian kinerja Simpang Lima Krian agar permasalahan yang selama ini terjadi dapat diatasi yaitu Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini . 
3. Utara (Jl. Gub Sunandar) Jalan Raya Gub. Sunandar merupakan salah satu ruas jalan yang kurang efektif jika dilihat dari lebar badan jalan yang hanya 6,90 meter (2 lajur 2 arah, tanpa adanya median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. ). Permasalahan yang timbul pada ruas jalan ini adalah volume kendaraan banyak yang melewati ruas jalan ini mulai kendaraan kecil sampai besar. Hal ini tidak sebanding dengan lebar badan jalan yang hanya 6,90 meter dan terdiri dari dua arah yang berlawanan, sehingga Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini , Perbaikan ruas dengan pelebaran badan jalan dilakukan berdasarkan perhitungan MKJI.
 4. Selatan (Jl KH. Dewantoro Arah Ke Mojosari) Ruas jalan ini merupakan ruas yang memiliki peranan yang penting dalam menghubungkan Surabaya/Sidoarjo ke Mojosari. Hal ini dilihat dari fungsi jalan berupa jalan penghubung (by pass). Pemanfaatan ruas jalan di sekitar berupa kawasan pertokoan dan perumahan padat penduduk, banyak menimbulkan kendala dalam sistem transportasi. Lebar badan jalan adalah 12,00 meter terdiri dari 4 lajur 2 arah tanpa median jalan ,bahu jalan,dan trotoar. . Ruas jalan ini banyak dilalui kendaraan mulai dari kendaraan kecil sampai besar ,maka Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .
5. Selatan (Jl. M. Yamin) Ruas jalan M. Yamin memiliki lebar badan jalan 8,55 meter yang terdiri dari 2 lajur 2 arah tanpa median jalan ,bahu jalan,dan trotoar . Lebar badan jalan yang kurang lebar menyebabkan kendaraan dari arah Surabaya maupun Mojokerto tidak diperbolehkan melewati ruas jalan ini, hanya lyn dan sepeda motor saja yang bisa melewati ruas jalan M.Yamin. Permasalahan transportasi pada Simpang Lima Krian merupakan salah satu permasalahan simpang yang sering terjadi pada simpang-simpang lainnya ,maka Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan, trotoar , dan median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .
Untuk jalan M.Yamin diusulkan untuk ditutup di ujung jalannya dan didirikan pos polisi secara permanen,berikut gambaran ruas jalan perkotaan di krian.



            Oleh sebab itu diperlukan suatu pengukuran tingkat pelayanan kinerja Simpang Lima Krian yang bertujuan untuk lebih mengoptimalkan kinerja simpang menjadi lebih baik lagi. Hasil perhitungan tersebut diharapkan dapat memberikan alternatif-alternatif pilihan terkait penanganan, misalnya:
 1. Pengoptimalan prasarana yang ada saat ini,
 2. Mengalihkan kendaraan ke rute lain yaitu dari rute macet ke rute yang tidak macet,
 3. Penambahan fasilitas jalan seperti pembuatan U-Turn ,median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .

Analisis Persimpangan
Perhitungan volume dilakukan pada waktu pagi, siang dan sore yaitu jam 06.00 - 09.00 WIB, 11.00 - 13.00 WIB dan 16.00 -€“ 19.00 WIB. Simpang Lima Krian dibagi menjadi beberapa pos pemantauan yang bertujuan untuk menghitung volume kendaraan yang masuk dan keluar di tiap-tiap ruas jalan. Hasil survei di lapangan tersebut ditunjukkan dalam tabel berikut ini.

Tabel . Volume dan Kapasitas


Gambar Derajat Kejenuhan 
Berdasarkan gambar  disimpulkan nilai derajat kejenuhan selama peak pagi, siang dan sore berada pada LOS F. Kondisi ini merupakan kondisi yang sangat Buruk€. Pada pagi hari ruas jalan raya basuki rahmat mengalami kemacetan yang tinggi dengan nilai DS = 1,28 dengan panjang antrian sebesar 700 meter. Pada siang hari nilai DS tertinggi dialami oleh ruas jalan raya Imam Bonjol dengan DS = 1,19 dan pada sore hari ruas jalan raya Imam Bonjol masih menduduki nilai DS = 1,21. Dimana nilai derajat kejenuhan DS ≥ 1, berada Tingkat Pelayanan Jalan LOS F (sangat buruk)

Tahapan Perencanaan Manajemen Lalu Lintas
                Bentuk penanganan yang dilakukan pada wilayah penelitian perlu dilakukan secara bertahap. Hal ini dilakukan berdasarkan tingkat kesulitan terkait dengan perbaikan kondisi yang ada. Perlunya perencanaan yang sistematis mengenai usulan rencana penanganan permasalahan yang didasarkan pada tingkatan tahun disebabkan oleh:
 1. Tingkatan kemudahan atau kesulitan pada saat melakukan penangana.
 2. Besarnya biaya dan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun kedepan.
 3. Perlunya perencanaan strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang agar permaslahan di Simpang Lima Krian dapat teratasi dengan baik dan tepat sasaran.

Hasil Penerapan Perencanaan Manajemen Lalu Lintas 
                 Perencanaan perbaikan €œManajemen Lalu Lintas dilakukan sebagai solusi penanganan guna meningkatkan nilai derajat kejenuhan yang terjadi pada Simpang Lima Krian yang semula berada di LOS F, ditingkatkan menjadi LOS C atau B.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah :
 1. Kondisi eksisting di tiap-tiap ruas jalan di sekitar Simpang Lima Krian memiliki permasalahan yang hampir sama baik di bagian Barat, Timur, Utara, Selatan. Permasalahan tersebut adaLah:
- Lebar badan jalan yang kurang memadai dan dibagi menjadi 4 lajur 2 arah.
-adanya persimpangan yang saling berdekatan antara jalan Basuki Rahmat ,  M.Yamin dan Jalan Kihajar Dewantara maka perlu adanya sebuah taman yang berada ditengah -tengah simpang yang berfungsi sebagai space antar jalan agar lebih tertata dan berfungsi sebagai putar balik atau U-turn
- Belum adanya pengaturan terkait pemanfaatan lahan di ruas jalan raya ini, kondisi semakin buruk karena pemanfaatan lahan memiliki nilai komersial.
 - Pengaturan waktu pada APILL kurang maksimal. - Masih banyak terjadi crossing dan pelanggaran lalu lintas.
- Terdapat tempat ibadah.
 - Kepadatan permukiman yang kecil.
 - Pada ruas Jalan KH Dewantoro merupakan jalan penghubung yang cepat (by pass).

 2. Usulan yang diusulkan dibagi menjadi 2 periode waktu, yaitu: 

a) Periode 1 Tahun Kedepan (Jangka Pendek) 

# Perlu dilakukan perkerasan bahu jalan dan pelebaran perkerasan bahu jalan sepanjang 1,5 meter di ruas jalan Gub. Sunandar .
# Perlu adanya penyediaan ,bahu jalan,dan trotoar , median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini .  .
# Perlunya pemantauan dan perbaikan terhadap kondisi rambu dan marka.
# Perlu adanya pembersihan hambatan samping.
# Perlu adanya pengaturan parkir
# Perlu dilakukannya evaluasi ulang terkait waktu siklus APILL.
# Perlu ditambahkannya pos- pos pemantauan polisi lalu lintas yang mampu memberiksan sanksi tegas terhadap pengemudi yang melakukan pelanggaran.

 b) Periode 3-5 Tahun Kedepan (Jangka Menengah dan panjang)
# Perlu dibangunnya lahan parkir tersendiri bagi kegiatan perdagangan.
# Perlu dibuatnya U-Turn.
# Perlu dibangun jalan dengan lebar masing-masing ruas minimal 20meter yang terbagi 4 lajur 2 arah dan dibatasi median jalan berpeneduh dan masing-masing sisinya terdapat trotoar berpeneduh.
# Perlu diberlakukan pembatasan kendaraan yang akan melintas di ruas Jalan Gubernur Sunandar.
# Perlunya penertiban kegiatan pasar yang ilegal seperti PKL yang menempati bahu jalan ,trotoar atau yang tidak pada tempatnya
# Perlu adanya pelebaran badan jalan.
# Perlu adanya pembuatan jalur baru yang merubah kondisi existing jalan M.Yamin dan pelebaran jalan dimasing-masing ruas.
# Perlu adanya pembangunan taman alon-alon ditengah titik pusat simpanglima dapat mencontoh kawasan simpanglima semarang atau simpanglima gumul kediri.
# Perlu adanya median jalan yang ditanami pohon peneduh , pelebaran jalan yang masing-masing sisinya terdapat trotoar dan pohon peneduh karena disamping untuk  mempecantik kawasan ini tapi juga bermanfaat sebagai penangkal Polusi udara yang disebabkan karena asap kendaraan yang melintasi wilayah ini , dan pengaturan atau pemanfaatan APILL lebih optimal.



Diharapkan Setelah dilakukan penerapan perencanaan Manajemen Lalu Lintas, tingkat pelayanan jalan di masing-masing ruas jalan yang semula berada di LOS F menjadi LOS C. Pada masing-masing ruas jalan raya pada siang dan sore hari berubah menjadi LOS C hingga LoS B

Adapun beberapa saran untuk meningkatkan kinerja Simpang Lima Krian yaitu:
 1. Perlunya adanya monitoring dan evaluasi terhadap volume persimpangan secara rutin. Hal tersebut dimaksudkan agar mempunyai data volume persimpangan yang selalu up to date sehingga data tersebut berguna untuk manajemen dan rekayasa lalu lintas dalam wilayah simpanglima Krian. 2. Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan pada persimpangan lain yang dilengkapi dengan APILL, sehingga dapat mengurangi tundaan.


DAFTAR PUSTAKA

1. (1996) Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan dalam Trayek Tetap dan Teratur, Dephub. Jakarta: Dijenhubdat.
2.  (1997) Perencanaan Sistem Angkutan Umum (Public Transport System Planning), Modul Pelatihan LPM. Bandung: ITB.
3. Abubakar, Iskandar (1996) Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang Tertib. Dirjenhubdat, Jakarta: PT. Bukit Mayana.
4. Armstrong, Alan, Urban Transyt Systems–Guidelines for Examining Options, World Bank Technical Papers Number 52.
5. Kadiyali, L.R. (1978) Traffic Engineering and Transport Planning. New Delhi: Khanna Publisher. 6. Miro, Fidel (2005) Perencanaan Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
7. Ortuzar & Willumsen (1990) Modelling Transport. England: John Wiley and Sons. 8. Tamin, Ofyar Z. (2000) Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung
8.Permodelan Simpanglima semarang dan simpanglima gumul kediri