INILAH KEINDAHAN PULAU DEWATA SAAT MATAHARI TENGGELAM.
Rabu, 01 Juli 2009
PEMIKIRAN 9
Bagi warga Jakarta, aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Saat ini beberapa televisi bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan. Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita semua.
Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok. Agresi itu sendiri menurut Murray (dalam Hall & Lindzey, Psikologi kepribadian, 1993) didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh,atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain.
Pertanyaannya kemudian adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa kasus-kasus sepele dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari dapat tiba-tiba berubah menjadi bencana besar yang berakibat hilangnya nyawa manusia? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa saja penyebab perilaku agresi.
• Amarah
Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak (Davidoff, Psikologi suatu pengantar 1991). Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi.
Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Kekecewaan, sakit fisik, penghinaan, atau ancaman sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi. Ejekan, hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi. Anak-anak di kota seringkali saling mengejek pada saat bermain, begitu juga dengan remaja biasanya mereka mulai saling mengejek dengan ringan sebagai bahan tertawaan, kemudian yang diejek ikut membalas ejekan tersebut, lama kelamaan ejekan yang dilakukan semakin panjang dan terus-menerus dengan intensitas ketegangan yang semakin tinggi bahkan seringkali disertai kata-kata kotor dan cabul. Ejekan ini semakin lama-semakin seru karena rekan-rekan yang menjadi penonton juga ikut-ikutan memanasi situasi. Pada akhirnya bila salah satu tidak dapat menahan amarahnya maka ia mulai berupaya menyerang lawannya. Dia berusaha meraih apa saja untuk melukai lawannya. Dengan demikian berarti isyarat tindak kekerasan mulai terjadi. Bahkan pada akhirnya penontonpun tidak jarang ikut-ikutan terlibat dalam perkelahian.
• Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff, 1991):
1) Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
2) Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.
3) Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteron menurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.
• Kesenjangan Generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak. permasalahan generation gap ini harus diatasi dengan segera, mengingat bahwa selain agresi, masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan narkotik, kehamilan diluar nikah, seks bebas, dll.
• Lingkungan
1) Kemiskinan
Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal ini dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di ibukota Jakarta, di perempatan jalan dalam antrian lampu merah (Traffic Light) anda biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih dari satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap di serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan resikonya anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang berani memukul pintu mobil anda jika anda tidak memberi uang, terlebih bila mereka tahu jumlah uang yang diberikan pada temannya cukup besar. Mereka juga bahkan tidak segan-segan menyerang temannya yang telah diberi uang dan berusaha merebutnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang seolah-olah biasa saja.
Bila terjadi perkelahian dipemukiman kumuh, misalnya ada pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang untuk beli minuman, maka pada saat itu anak-anak dengan mudah dapat melihat model agresi secara langsung. Model agresi ini seringkali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi-situasi yang dirasakan sangat kritis bagi pertahanan hidupnya dan ditambah dengan nalar yang belum berkembang optimal, anak-anak seringkali dengan gampang bertindak agresi misalnya dengan cara memukul, berteriak, dan mendorong orang lain sehingga terjatuh dan tersingkir dalam kompetisi sementara ia akan berhasil mencapai tujuannya. Hal yang sangat menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonomi & moneter menyebabkan pembengkakan kemiskinan yang semakin tidak terkendali. Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar dan kesulitan mengatasinya lebih kompleks.
2) Anonimitas
Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara otomatis cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut.
Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada orang lain.
3) Suhu udara yang panas
Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tapi bila musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga menjadi sepi.
Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992
• Peran Belajar Model Kekerasan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga "games" atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga. Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down, UFC (Ultimate Fighting Championship) atau sejenisnya. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Pendapat ini sesuai dengan yang diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut.
Model pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal ini sudah barang tentu membuat penonton akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang menyenangka dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model kekerasan dan hal ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku agresi.
Dalam suatu penelitian Aletha Stein (Davidoff, 1991) dikemukakan bahwa anak-anak yang memiliki kadar aagresi diatas normal akan lebih cenderung berlaku agresif, mereka akan bertindak keras terhadap sesama anak lain setelah menyaksikan adegan kekerasan dan meningkatkan agresi dalam kehidupan sehari-hari, dan ada kemungkinan efek ini sifatnya menetap.
Selain model dari yang di saksikan di televisi belajar model juga dapat berlangsung secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Bila seorang yang sering menyaksiksikan tawuran di jalan, mereka secara langsung menyaksikan kebanggaan orang yang melakukan agresi secara langsung. Atau dalam kehidupan bila terbiasa di lingkungan rumah menyaksikan peristiwa perkelahian antar orang tua dilingkungan rumah, ayah dan ibu yang sering cekcok dan peristiwa sejenisnya , semua itu dapat memperkuat perilaku agresi yang ternyata sangat efektif bagi dirinya.
Model kekerasan juga seringkali ditampilkan dalam bentuk mainan yang dijual di toko-toko. Seringkali orang tua tidak terlalu perduli mainan apa yang di minta anak, yang penting anaknya senang dan tidak nangis lagi. Sebenarnya permainan-permainan sangat efektif dalam memperkuat perilaku agresif anak dimasa mendatang. Permainan-permainan yang mengandung unsur kekerasan yang dapat kita temui di pasaran misalnya pistol-pistolan, pedang, model mainan perang-perangan, bahkan ada mainan yang dengan model Goilotine (alat penggal kepala sebagai hukuman mati di Perancis jaman dulu). Mainan kekerasan ini bisa mempengaruhi anak karena memberikan informasi bahwa kekerasan (agresi) adalah sesuatu yang menyenangkan. Permainan lain yang sama efektifnya adalah permainan dalam video game atau play station yang juga banyak menyajikan bentuk-bentuk kekerasan sebagai suatu permainan yang mengasikkan.
• Frustrasi
Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustrasi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi.
Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya, beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu. Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya.
Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya.
• Proses Pendisiplinan yang Keliru
Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan membeci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Pola pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan, terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (cth: dilarang untuk keluar main, tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka).
Dengan mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan diatas diharapkan dapat diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik dan terutama para remaja sendiri dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun agresi fisik dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan. Mungkin masih banyak faktor penyebab lainnya yang belum kami bahsa disini, namun setidaknya faktor-faktor diatas patut diwaspadai dan diberikan perhatian demi menciptakan rasa aman dalam masyarakat kita. Bukankah Damai Itu Indah..... (jp)
pemikiran 8
Ibu Heny sangat terpesona dengan Dendi, anak tetangganya yang baru berumur 3 tahun. Dendi adalah seorang anak yang penuh percaya diri, riang dan lincah, tidak pernah takut bertanya ini itu dan dengan mantap menyapa orang yang baru dikenalnya. Kondisi tersebut sangat kontras jika dibandingkan dengan Adie (3 tahun), anaknya Ibu Heny. Setiap kali bertemu orang baru Adie selalu ingin terus-menerus berada dekat orangtuanya, menyembunyikan diri di balik rok ibunya, tidak mau diajak bicara dan tidak mau melakukan kontak mata. Situasi ini sangat membingungkan ibu Heny dan tidak jarang ia menjadi malu dan sedikit "jengkel" dengan perilaku anaknya.
Apakah anda mengalami hal yang sama dengan dialami oleh ibu Heny? Jika ya, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua untuk meningkatkan rasa percaya diri pada anak sehingga sifat pemalu pada anak lambat laun menjadi hilang? Lalu apa dampaknya jika anak tidak kunjung memperoleh rasa percaya diri? Inilah yang akan coba dibahas dalam artikel ini. Artikel ini akan terbagi dalam beberapa bagian yaitu:
• Apakah Pemalu itu
• Dampak apakah yang akan mungkin timbul akibat sifat pemalu
• Bagaimanakah sebaiknya orangtua menyikapi anak pemalu
Apakah Pemalu Itu?
Para ahli nampaknya memiliki beberapa pandangan yang berbeda tentang perilaku pemalu (shyness). Ada ahli yang mengatakan bahwa pemalu adalah suatu sifat bawaan atau karakter yang terberi sejak lahir. Ahli lain mengatakan bahwa pemalu adalah perilaku yang merupakan hasil belajar atau respond terhadap suatu kondisi tertentu. Secara definitif, penulis menjabarkan pemalu sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya dan merasa cemas karena penilaian sosial tersebut, sehingga cenderung untuk menarik diri
Kecenderungan menarik diri ini sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita dapat melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati orang atau tidak mau untuk dipegang. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan diri mereka berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal.
Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:
1. menghindari kontak mata;
2. tidak mau melakukan apa-apa;
3. terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya);
4. tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti "ya", "tidak", "tidak tahu", "halo";
5. tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas;
6. tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal;
7. mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu;
8. menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah);
9. mengalami psikosomatis;
10. merasa tidak ada yang menyukainya.
Swallow juga menyatakan adanya beberapa situasi dimana seseorang (pemalu maupun tidak) akan mengalami rasa malu yang wajar dan lebih dapat diterima, yaitu:
1. bertemu dengan orang yang baru dikenal;
2. tampil di depan orang banyak;
3. situasi baru (misalnya sekolah baru, pindah rumah baru).
Kembali ke atas
Dampak Sifat Pemalu
Pada dasarnya pemalu bukanlah hal yang menjadi masalah ataupun dipermasalahkan, dan sudah pasti bukan merupakan abnormalitas. Tetapi masalah justru bisa muncul akibat sifat pemalu. Peribahasa malu bertanya sesat di jalan, menggambarkan secara tepat masalah yang dapat muncul karena rasa malu yang ada dalam diri seseorang. Misalnya, ketika berada di rumah teman/tetangga, anak ingin buang air kecil tetapi malu minta ijin ke toilet, sehingga menahan keinginan buang air yang akhirnya berakibat sianak malah mengompol.
Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya. Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi, tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan, maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.
Kembali ke atas
Apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?
Tanpa mengabaikan pendapat bahwa pemalu merupakan bawaan/karakter terberi atau bukan, satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa lingkungan memegang peranan penting terhadap sifat pemalu ini. Anak akan semakin pemalu ataukah justru dapat mengatasi sifat pemalu ini, tergantung dari apakah lingkungannya (baca: orangtua) terus-terusan melindungi anak pemalu atau mendorongnya untuk mau menghadapi dunia luar sehingga anak menjadi lebih percaya diri.
Idealnya orangtua menerima sifat pemalu anak apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Namun di lain pihak orangtua diharapkan untuk memampukan anak dalam mengatasi rasa malu sehingga anak merasa kompeten, percaya diri, berkembang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya dan megurangi masalah yang mungkin timbul sebagai akibat sifat pemalu. Seorang anak yang pemalu, tidak terus-terusan merasa malu dalam setiap situasi hidupnya. Ada situasi-situasi tertentu yang dapat membuatnya merasa percaya diri. Biasanya situasi tersebut adalah ketika anak sedang bersama orangtua ataupun anggota keluarga yang ditemuinya setiap hari (tanpa kehadiran orang baru/asing) atau situasi yang stabil/rutin dilalui anak. Kalau orangtua dari awal sudah mengetahui anaknya pemalu dan ingin mendorongnya agar mampu mengatasi rasa malu tersebut, maka sebaiknya dari awal itulah usaha orangtua sudah dilakukan. Usaha orangtua sebaiknya merupakan usaha yang bertahap, hari demi hari sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian menampakkan hasilnya, seperti kata pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
Orangtua sebaiknya mendorong anak untuk berani keluar dan menghadapi dunia luar dengan percaya diri. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba (drastis). Misalnya ketika orangtua sudah mencapai titik jenuh melindungi anaknya terus-menerus dan bingung melihat anaknya sampai usia sekian tahun masih tidak mau bergaul dengan anak tetangga, lalu dengan tiba-tiba melepaskan si anak dan mengatakan "ayo dong Adie, sekarang kamu sudah besar, kamu sekarang sudah harus berani, ayo sana bermain play station ramai-ramai dengan Deni di rumahnya". Perubahan sikap orangtua yang seperti ini bisa menjadi tekanan tersendiri buat si anak, karena yang biasanya aman dalam lindungan orangtua, tiba-tiba orangtua berubah melepaskan dan "tidak mau melindungi". Mendorong anak (encourage) tidak sama dengan memaksa (push), usaha yang tiba-tiba bukanlah mendorong, tetapi memaksa. Perasaan terpaksa akan membuat keadaan bertambah buruk karena anak ditempatkan pada keadaaan yang melebihi batas toleransinya, sehingga anak bisa jadi malah semakin menarik diri.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak mengatasi rasa malu, yaitu:
1. Orangtua sebaiknya tidak mengolok-olok sifat pemalu anak ataupun memperbincangkan sifat pemalunya di depan anak tersebut. Contohnya dengan mengatakan "kamu sih pemalu","iya loh Bu Joko, anak saya ini pemalu sekali, sampai repot saya kadang-kadang", dll. Dengan mengatakan hal-hal ini anak dapat merasa tidak diterima sebagaimana dia adanya.
2. Mengetahui kesukaan dan potensi anak, lalu mendorongnya untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Misalnya, anak suka main mobil-mobilan, ketika berada di toko ia menginginkan mobil berwarna merah, sementara yang tersedia berwarna biru, maka anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia menginginkan mobil yang berwarna biru.
3. Sebaiknya orangtua secara rutin mengajak anak untuk berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.
4. Lakukan role-playing bersama anak. Misalnya seperti pada contoh no. 2 diatas, anak belum tentu berani untuk berbicara pada pelayan toko sekalipun didampingi, maka ketika berada di rumah, orangtua dan anak bisa bermain peran seolah-olah sedang berada di toko dan anak pura-pura berbicara dengan pelayan. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dll.
5. Jadilah contoh buat anak, orangtua tidak hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi juga menjadi model dari perilaku yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orangtuanya sendiri.
Apapun usaha yang dilakukan, sebaiknya orangtua tetap mendampingi dan tidak langsung melepaskan anak seorang diri. Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak, atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu (anak main bersama temannya tapi dia tahu orangtuanya ada dan tidak meninggalkan seorang diri). Anak bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang. (jp)
pemikiran 7
KEUNIKAN BAHASA SMS DI SURAT KABAR
Bahasa yang kerap digunakan dalam Short Massage Service (SMS) melalui ponsel dinilai unik oleh tiga siswi Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) SMU PGRI I, Pati. Di sini, ada kekebasan mengunakan bahasa yang tidak baku. Ada ciri khas, baik dilihat dari struktur kalimat maupun diksinya.
Itulah yang mendorong ketiga siswi tersebut untuk melakukan penelitian. Mereka adalah Lucya Agnes Novilia Puspita, Dewi Puspitasari, dan Fina Trisnawati. Ketiga siswi ini melakukan penelitian dengan mengamati bahasa SMS yang dimuat di surat kabar Suara Merdeka Semarang.
Surat kabar tersebut meminta tanggapan pembacanya melalui SMS pada sebuah nomor ponsel atas pro kontra sebuah peristiwa. Dengan pemuatan SMS pembaca tersebut, para siswi ini ingin mengetahui mengapa muncul ragam bahasa SMS di surat kabar dan apa keunikan bahasa SMS di surat kabar.
Melalui penelitian ini, ketiga siswi itu mendapatkan adanya kebebasan pengguna SMS dalam berbahasa. Antara lain, urainya, menggunakan bahasa yang tidak baku. Selain itu, kebanyakan pengguna SMS sesukanya sendiri berbahasa dan tidak memperdulikan apakah itu bahasa baku atau tidak. ''Mereka menyusun bahasa seperti yang mereka inginkan,'' tulis mereka dalam urian penelitiannya.
Dalam penelitian ini juga ditemukan banyak kalimat pengguna SMS memakai tanda baca yang lebih dari satu. Mereka menggunakan tanda baca berlebihan karena adanya tujuan tertentu. Misalnya, ingin menyampaikan perasaan, baik kemarahan atau perasaan bangga.
Ketiga siswi ini menemukan, pengguna SMS di surat kabar sering menggunakan bahasa daerah, bahasa gaul, atau bahasa asing. Tidak jarang kalimat dibuat variasi dalam berbahasa atau memadukan bahasa yang satu dengan yang lainnya sehingga terjadi keragaman bahasa.
Lucya dan kawan-kawan menguraikan, struktur kalimat yang benar menurut tata bahasa adalah kalimat yang memiliki subjek, predikat, dan keterangan. ''Namun struktur kalimat bahasa dalam SMS tidaklah demikian,'' tuturnya.
Struktur kalimat dalam SMS, katanya, sangat bervariasi. Tergantung pada penggunanya. Ada yang menggunakan bahasa Jawa lalu disambung dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia diselipi bahasa Inggris. Ini, disebutnya, sebagai hal yang unik.
Pilihan kata (diksi) yang digunakan dalam ragam bahasa SMS juga dianggapnya sebagai hal yang menunjukkan keunikan. Menurut ketiga siswi ini, keunikan-keunikan bahasa SMS muncul dikarenakan adanya struktur kalimat dan pilihan kata yang digunakan.
Berangkat dari penelitian tersebut, ketiga siswi itu menyimpulkan, keanekaragaman penggunaan bahasa merupakan sumbangan positif bagi perkembangan bahasa Indonesia. Selain itu, keunikan bahasa SMS sangat dipengaruhi oleh kebebasan mengguna bahasa, peranan bahasa daerah, peranan bahasa gaul, dan peranan bahasa asing.
Atas dasar itu, mereka menyarankan empat hal. Pertama, selalu berusaha menggali bahasa agar ragam bahasa Indonesia semakin berkembang. Kedua, membuat hal-hal baru yang bermanfaat, khususbya bagi perkembangan bahasa Indonesia. Ketiga, selalu berkreasi untuk memperluas ragam bahasa Indonesia, Keempat, dengan kemajuan telekomunikasi, harus dapat memanfaatkan sebaik-baiknya.
Hasil penelitian ini termasuk salah satu finalis Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2003 yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
……………………………………………………………………………………………………………..
Jika kita cerdas mengamati realitas kehidupan masyarakat,
akan tampak dunia pendidikan kita yang kurang diorientasikan
untuk mencerap (memperhatikan) realitas kehidupan secara kreatif dan visioner.
Realitas kehidupan ekonomi kita yang sebagian besar masyarakat ada di pedesaan
dan bekerja di ladang pertanian dan perkebunan, misalnya,
ternyata kurang tergarap baik oleh ilmu pertanian dan perkebunan yang diajarkan di sekolah-sekolah umum.
Buktinya kita tidak mampu mengembangkan budidaya pertanian dan perkebunan,
sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri.
Bahasa yang kerap digunakan dalam Short Massage Service (SMS) melalui ponsel dinilai unik oleh tiga siswi Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) SMU PGRI I, Pati. Di sini, ada kekebasan mengunakan bahasa yang tidak baku. Ada ciri khas, baik dilihat dari struktur kalimat maupun diksinya.
Itulah yang mendorong ketiga siswi tersebut untuk melakukan penelitian. Mereka adalah Lucya Agnes Novilia Puspita, Dewi Puspitasari, dan Fina Trisnawati. Ketiga siswi ini melakukan penelitian dengan mengamati bahasa SMS yang dimuat di surat kabar Suara Merdeka Semarang.
Surat kabar tersebut meminta tanggapan pembacanya melalui SMS pada sebuah nomor ponsel atas pro kontra sebuah peristiwa. Dengan pemuatan SMS pembaca tersebut, para siswi ini ingin mengetahui mengapa muncul ragam bahasa SMS di surat kabar dan apa keunikan bahasa SMS di surat kabar.
Melalui penelitian ini, ketiga siswi itu mendapatkan adanya kebebasan pengguna SMS dalam berbahasa. Antara lain, urainya, menggunakan bahasa yang tidak baku. Selain itu, kebanyakan pengguna SMS sesukanya sendiri berbahasa dan tidak memperdulikan apakah itu bahasa baku atau tidak. ''Mereka menyusun bahasa seperti yang mereka inginkan,'' tulis mereka dalam urian penelitiannya.
Dalam penelitian ini juga ditemukan banyak kalimat pengguna SMS memakai tanda baca yang lebih dari satu. Mereka menggunakan tanda baca berlebihan karena adanya tujuan tertentu. Misalnya, ingin menyampaikan perasaan, baik kemarahan atau perasaan bangga.
Ketiga siswi ini menemukan, pengguna SMS di surat kabar sering menggunakan bahasa daerah, bahasa gaul, atau bahasa asing. Tidak jarang kalimat dibuat variasi dalam berbahasa atau memadukan bahasa yang satu dengan yang lainnya sehingga terjadi keragaman bahasa.
Lucya dan kawan-kawan menguraikan, struktur kalimat yang benar menurut tata bahasa adalah kalimat yang memiliki subjek, predikat, dan keterangan. ''Namun struktur kalimat bahasa dalam SMS tidaklah demikian,'' tuturnya.
Struktur kalimat dalam SMS, katanya, sangat bervariasi. Tergantung pada penggunanya. Ada yang menggunakan bahasa Jawa lalu disambung dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia diselipi bahasa Inggris. Ini, disebutnya, sebagai hal yang unik.
Pilihan kata (diksi) yang digunakan dalam ragam bahasa SMS juga dianggapnya sebagai hal yang menunjukkan keunikan. Menurut ketiga siswi ini, keunikan-keunikan bahasa SMS muncul dikarenakan adanya struktur kalimat dan pilihan kata yang digunakan.
Berangkat dari penelitian tersebut, ketiga siswi itu menyimpulkan, keanekaragaman penggunaan bahasa merupakan sumbangan positif bagi perkembangan bahasa Indonesia. Selain itu, keunikan bahasa SMS sangat dipengaruhi oleh kebebasan mengguna bahasa, peranan bahasa daerah, peranan bahasa gaul, dan peranan bahasa asing.
Atas dasar itu, mereka menyarankan empat hal. Pertama, selalu berusaha menggali bahasa agar ragam bahasa Indonesia semakin berkembang. Kedua, membuat hal-hal baru yang bermanfaat, khususbya bagi perkembangan bahasa Indonesia. Ketiga, selalu berkreasi untuk memperluas ragam bahasa Indonesia, Keempat, dengan kemajuan telekomunikasi, harus dapat memanfaatkan sebaik-baiknya.
Hasil penelitian ini termasuk salah satu finalis Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2003 yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
……………………………………………………………………………………………………………..
Jika kita cerdas mengamati realitas kehidupan masyarakat,
akan tampak dunia pendidikan kita yang kurang diorientasikan
untuk mencerap (memperhatikan) realitas kehidupan secara kreatif dan visioner.
Realitas kehidupan ekonomi kita yang sebagian besar masyarakat ada di pedesaan
dan bekerja di ladang pertanian dan perkebunan, misalnya,
ternyata kurang tergarap baik oleh ilmu pertanian dan perkebunan yang diajarkan di sekolah-sekolah umum.
Buktinya kita tidak mampu mengembangkan budidaya pertanian dan perkebunan,
sehingga kita tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri.
Senin, 29 Juni 2009
SEBILAH pisau? O, besar sekali dan panjangnya sekitar 30 cm! Ya, ya, malam itu kulihat sebilah pisau besar, bentuknya cukup aneh, paduan antara golok dan celurit. Jelasnya begini: gagangnya terbuat dari kayu eboni, pangkal mata pisau berbentuk mirip golok Betawi, tetapi ujungnya seperti celurit Madura. Penampilannya berkilat-kilat, pancaran ketajamannya.Ini pisau dari Tokyo. Pisau kesayangan Taro, ya, suamiku. Maksudku, Taro gemar memasak dan pisau ini alat utamanya untuk memasak. Lebih baik Taro tidak memasak, bila pisau ini terselip atau sedang tidak ada di dapur...."
"O, tapi... ee... pisau itu menakutkan. Eee... maksudku, terlalu besar dan terlalu tajam sebagai pisau dapur. Lebih cocok digunakan di rumah jagal saja," selaku, sebelum penjelasan pisau dari Tokyo itu selesai.
Yang menjelaskan mengenai pisau dari Tokyo itu adalah Naomi Nerusa, share-mate-ku (teman serumahku), ketika aku belajar di Benua Kangguru. Ya, aku dan Naomi menyewa rumah secara patungan, untuk kami tempati bersama selama dua tahun. Aku mengenal Naomi ketika kami sama-sama tinggal di apartemen kampus yang sewanya relatif mahal. Maka, aku dan Naomi lalu mencari rumah yang sewanya lebih murah daripada apartemen kampus tersebut. Aku memilih Naomi sebagai share-mate-ku karena dia kunilai cukup komunikatif, lincah, dan pernah berkunjung ke Jakarta, Yogya, dan Bali. Sehingga kalau kuajak bicara mengenai ketiga tempat itu bisa nyambung. Oya, Naomi juga suka masakan Indonesia, khususnya sate ayam Madura.
Malam itu, aku dan Naomi siap membuat sate ayam Madura untuk makan malam kami. Maka ia mengeluarkan pisau dari Tokyo, untuk memotong-motong daging ayam yang akan kami buat sate.
"Nah, you saja yang memotong-motong daging ini, aku yang mengupas rempah-rempahnya. Oke?" kata Naomi, ketika aku mengambil pisau kecil untuk mengupas bawang merah untuk lalap.
"Lho kok aku yang mesti memotong-motong daging, memangnya kenapa?" tanyaku heran, karena kulihat tiba-tiba wajah Naomi yang semula ceria berubah menjadi kecut mengkerut.
"Eee... aku takut sama pisau itu. Sejak pertama kali melihatnya, aku memang takut. Heehhhh... maafkan aku!" mata Naomi memejam, lalu membalikkan diri ke arah lain, memunggungi pisau yang berkilauan itu.
"Naaah... kalau kau takut, mengapa pisau itu kau keluarkan?" tanyaku, sambil mengikuti arah muka Naomi.
"Kupikir kita perlu pisau tajam untuk memotong-motong daging ayam. Tapi, eee... maaf," tiba-tiba ia tertawa, tetapi tawanya sumbang.
"Lho... kok tertawa. Katamu.... kau takut, tapi tertawa!" aku ikut tertawa, karena melihat mimik Naomi yang lucu: diliputi rasa takut, tetapi berusaha sok kalem.
"Ya, aku tertawa karena ingat sejarah pisau itu," Naomi masih tertawa, "Lucu, kisahnya! Ya, lucu-lucu seram," sambungnya, sambil membalikkan tubuhnya dan menunjuk pisau yang katanya ditakutinya.
"Lucu, kisahnya. Lucu-lucu seram, bagaimana itu?" aku penasaran.
"Pisau itu, pemberian Paman Tsuda-pamannya Taro," Naomi mulai bercerita, "Kedua orangtua Taro meninggal ketika Taro masih kecil. Maka, ia lalu diasuh Paman Tsuda. Nah, Paman Tsuda itu pembuat pisau ulung di desanya, di pinggiran Tokyo. Taro juga dilatih membuat pisau. Tetapi, ketika lulus SMP ia tidak berminat melanjutkan usaha pamannya memproduksi pisau. Ia tertarik bidang elektronik dan pamannya merestui. Maka, ketika aku berkenalan dengan Taro, ia telah bekerja di perusahaan elektronik di Tokyo. Kami pacaran tiga bulan, lalu menikah...."
"Apa hubungannya ceritamu dengan pisau dari Tokyo ini?" selaku tak sabar karena cerita Naomi kuanggap berbelit-belit.
"Nanti dulu. Ceritaku belum sampai ke pisau...," Naomi memintaku bersabar.
"Okay. Lalu, bagaimana?" desakku.
"Nah, setelah aku jadi istri Taro, aku tinggal bersama Paman Tsuda. Waktu aku akan berangkat ke Australia-ya, untuk belajar yang sekarang sedang saya jalani ini, Paman Tsuda menyuruhku membawa pisau ini. Aku menolak, karena aku merasa tidak memerlukannya. Yang memerlukan pisau itu Taro, karena Taro selalu menggunakannya untuk memotong bahan makanan yang dimasaknya. Tapi, Paman Tsuda mendesakku. Katanya, pisau itu bisa kujadikan senjata...."
"Kau jadikan senjata? Senjata untuk apa?" aku terheran-heran.
"Ini dia yang lucu. Tapi, lucu yang sekaligus seram," Naomi menggeleng-geleng, "E... sungguh menyeramkan. Kata Paman Tsuda, pisau ini bisa kugunakan untuk membunuh Taro, kalau Taro menyeleweng...."
"Heehhh... menyeleweng? Selingkuh maksudmu?" tegasku.
"Ya, kalau Taro punya love affair dengan perempuan ketiga...," jelas Naomi.
"Apa Taro... ee... maaf, suamimu itu suka selingkuh atau semacam itu?" aku ingin tahu. "Kok sampai pamannya bilang begitu..."
"No, no... Taro bukan laki-laki tipe itu. Dia laki-laki yang baik dan aku tahu, dia sangat mencintaiku, suka membangga-banggakanku...."
"Ya, ya, jelas, karena kau cantik dan pintar...," komentarku.
"Ya, mungkin," Naomi mengerlingkan matanya dan ada bias-bias kebanggaan terpancar dari mata itu. "Sayangnya, ia sering memukul dan menggigitku bila ia berhubungan intim denganku...! Ya, dia punya kelainan. Itu, yang kubenci... itu yang kutakuti. Maka, sering terlintas dalam benakku, aku ingin meninggalkannya untuk mencari kelembutan dan belaian dari laki-laki lain. Atau, paling tidak ...jauh darinya, agar aku bebas dari...." matanya yang semula berbinar-binar itu lalu meredup dan suaranya serak.
"Ohhh, Naomi!" desisku dengan bingung, karena aku tidak tahu harus berbicara apa untuk menanggapi penuturannya itu.
"Maka, aku senang, ketika Taro mengirimku belajar kemari ya... di Australia ini. Jadi, aku bebas dari pukulan-pukulannya dan gigitan mautnya. Gila! Kalau dalam seminggu ia mengajakku berhubungan intim dua atau sampai tiga kali, maka tubuhku hancur, babak belur. Pangkal pahaku, perutku, leherku, dan payudaraku akan biru-biru lebam. Aku biasanya jadi malas keluar rumah, Selain sakit, aku juga malu karena jalanku jadi engkang-engkang-jelek. Belum lagi leherku yang penuh bekas gigitannya, payudaraku juga nyeri, apalagi lubang vaginaku... seperti disodok-sodok tombak!" Naomi meringis.
"Sampai begitu? Ohhh... Naomi!" aku mendesis lagi dan jadi ngeri membayangkan kelainan Taro, suami Naomi.
"Makanya, aku sebetulnya tidak happy, kalau suamiku nyusul aku kemari," suara Naomi tiba-tiba merendah, seperti berbisik.
"Lho, tapi, bukankah suamimu telah memutuskan akan menyusulmu kemari? Bahkan kau bilang, dia mau melamar jadi PiAr- permanent resident di sini, bukan?" aku mengingatkan apa yang pernah diceritakan Naomi kepadaku, sebelum ia jadi share-mate-ku.
"Ya, mau dia memang begitu. Dia ingin tinggal di Australia, karena ingin menginjak tanah. Maksudku, ia ingin tinggal di rumah besar, berhalaman luas dan bisa mengendarai mobil pribadi. Maklum, hidup di Tokyo menginjak tanah adalah barang luks. Maksudku, hidup di Tokyo tidak mungkin tinggal di rumah besar, berhalaman luas dan bisa mengendarai mobil pribadi. Biaya hidup di Tokyo sangat mahal. Yang bisa kami bayar hanyalah tinggal di apartemen ukuran 3 x 3 meter, untuk keperluan segalanya. Kalau punya mobil harus menyewa garasi yang sewanya sama dengan untuk menyewa apartemen...," Naomi memandangiku, sebagai penegasan, "Makanya, bagi Taro, tinggal di Australia adalah impiannya dan itu harus diwujudkannya!"
"Jadi, kapan dia kemari?" aku ingin tahu.
"Ya, tiga bulan lagi, setelah ia menjual barang-barang kami dan mengurus surat-surat pindah. Aku dan Taro akan memulai hidup baru di sini...."
"Oh... indah sekali. Kalian bakal menemukan surga di Australia. Orang Jepang uangnya banyak. Kulihat, banyak orang Jepang yang membeli rumah dan mobil-mobil mewah di sini...."
"O... tidak semua orang Jepang begitu," Naomi cepat-cepat meralat kalimatku. "Walau Taro sudah manager, tetapi gajinya tidak besar. Jadi, ya... kalau cuma membeli rumah keong dan mobil seconds mungkin bisa...," Naomi merendah.
"Apalagi kalau kau sudah kerja di sini," seruku, karena kuliah Naomi, yang ambil Master Fakultas IT akan selesai tahun depan. "Master lulusan IT banyak diperlukan di Australia."
"Mudah-mudahan," mata Naomi sedikit berbinar. "Yuk, sekarang kita bikin sate ayam. You yang memotong-motong dagingnya!" sambung Naomi.
Aku pun lalu menggunakan pisau dari Tokyo untuk memotong-motong daging ayam yang akan kami buat sate. Bukan main, pisaunya tajam sekali. Maka, Naomi lalu memperingatkanku agar aku berhati-hati ketika menggunakannya, agar tanganku tidak teriris olehnya.
TARO sudah datang dari Tokyo dan tinggal bersama kami. Benar kata Naomi, Taro memang gemar memasak dan selalu menggunakan pisau dari Tokyo, untuk memotong bahan-bahan yang dimasaknya. Sungguh terampil tangannya ketika menggunakan pisau itu, saat memotong apa saja: dari bawang putih, seledri, daun bawang, hingga ikan dan daging yang diolahnya. Aku sering menyaksikannya bila ia masak untuk makan malam mereka dan kadang aku diberinya. Karena, aku juga sering memberi mereka apa yang kumasak pada pagi hari. Sejak ada Taro, aku memang sering tukar-menukar makanan. Sebelum Taro datang, Noami sering minta tolong aku untuk memasak. Naomi memang tidak suka memasak! Jadi, kalau ia memasak, artinya terpaksa!
Sejak Taro di Australia, Naomi tidak pernah ke dapur. Jadi, pisau dari Tokyo itu sama sekali tidak dipegangnya. Aku juga tidak memegangnya, karena aku lebih suka menggunakan pisauku yang kubawa dari Jakarta, untuk mengupas bumbu-bumbu atau memotong bahan-bahan yang kumasak. Taro selalu mendesakku agar aku menggunakan pisau dari Tokyo, dengan alasan, lebih tajam dari pisauku. Bahkan suatu pagi Taro bilang padaku, "Bila aku berpisah denganmu, pisau ini akan kuberikan padamu, untuk kenang-kenangan."
Aku tertawa mendengar apa yang dikatakan Taro. Di balik tawaku, sebetulnya aku ngeri dan kemudian berkata, "Taro, apa indahnya kenang-kenangan sebilah pisau... pisau yang sangat tajam dan bentuknya aneh. Terus terang, aku takut pada pisau itu! Naomi juga takut."
"Ah, jangan takut. Pisau ini jadi menakutkan bila digunakan untuk membunuh. Bila digunakan untuk tujuan positif seperti untuk memotong-motong bahan yang akan kita masak atau berkebun, membabat ilalang dan rumput ya tidak apa-apa...," sahut Taro dengan sikap tenang.
Bersikap tenang, adalah pembawaan Taro yang paling menonjol. Maka, aku jadi heran dan bertanya-tanya: apakah mungkin laki-laki berpembawaan setenang Taro punya kelainan buas, suka memukul dan menggigit pasangannya, ketika melakukan hubungan seksual seperti yang diceritakan Naomi? Kupandangi Taro, yang malam itu sedang duduk sendirian di ruang makan, sambil memandangi sajian masakan yang telah dimasaknya sejak sore, untuk makan malamnya bersama Naomi. Jam telah menunjukkan pukul 21.30.
"Taro, Naomi belum pulang?" tanyaku, merasa kasihan pada Taro yang kuhitung hampir dua minggu selalu menanti kedatangan Naomi yang terlambat.
"Ya, Naomi belum pulang. Akhir-akhir ini ia selalu pulang terlambat...," sahut Taro, suaranya berat dan patah-patah.
Aku tahu, ia ingin mengeluh kepadaku, tetapi ditahannya. Maka ia lalu kuhibur sebisaku, "Taro, mungkin Naomi masih belajar di perpustakaan. Atau, barangkali ada meeting-kerja grup. Maklum, student IT memang banyak tugas, bikin program yang aneh-aneh dan rumit...."
"Ya, barangkali," Taro memandangiku dengan mata kosong. "Tapi, apakah sistem belajar di Australia harus sampai larut begini? Lebih dari pukul sembilan malam belum selesai?"
"Tergantung fakultasnya, Taro. Kalau aku, yang ambil ilmu sosial ya... tidak sampai malam kalau belajar bersama. Tapi, kami dituntut banyak membaca. Aku lebih senang membaca di rumah daripada di perpustakaan," tuturku.
"Ya, kupikir, merancang program juga bisa di rumah. Aku kan juga pernah belajar komputer-IT. Memang sih... otodidak...! Tapi, kupikir, Naomi tidak perlu sampai pulang terlambat terus. Iya, kan, begitu?"
Aku diam saja. Aku tidak ingin masuk ke dalam lingkar masalah yang sedang dihadapi Taro yang tampak unhappy karena istrinya, ya... Naomi, selalu pulang terlambat. Hari berikutnya, Naomi pulang terlambat lagi. Terus, terlambat lagi. Begitu, hingga pada suatu senja aku melihat Naomi bergandeng tangan mesra dengan student dari Kolombia, teman sekelasnya. Setahuku, di kampus, student Kolombia itu dipanggil: Banderas! Padahal, nama sebenarnya Ferdinand. Ia dipanggil Banderas karena wajah dan tubuhnya memang mirip Antonio Banderas-aktor Hollywood asal Spanyol, yang pernah dinobatkan oleh sebuah majalah wanita terbitan Amerika, sebagai salah satu pria terseksi di dunia. Maka dapat dibayangkan, betapa tampannya Ferdinand, yang menggandeng Naomi. Taro yang tingginya kuperkirakan tidak sampai 160 cm, tentu bukan bandingan Ferdinand.
Diam-diam kuikuti arah jalan Naomi dan Banderas. Mereka dari perpustakaan menuju ke utara, ke apartemen kampus Blok A. Aku jadi ingat, Ferdinand memang tinggal di Blok A, lantai 6-yang dikenal sebagai markas student dari Kolombia.
Kuperhatikan, Naomi dan Ferdinand naik lift. Pikirku, jadi selama ini, Naomi selalu pulang malam karena bersama Banderas? Aku lalu ke perpustakaan, ada meeting, dan pulang ke rumah pukul 21.00. Sampai di rumah, kulihat Taro sedang memasak dengan wajah murung. Padahal biasanya, kalau memasak pukul 18.00 dan wajahnya ceria. Meskipun demikian, ia berusaha tersenyum semanis mungkin begitu melihatku masuk ke rumah. Seperti biasanya, ia menanyakan keadaanku. Seperti biasanya juga, aku menjawab: fine, thank you!
"Ohhh... very good! Very good!" Taro menanggapiku, lalu menghentikan langkahku yang mau naik ke loteng, menuju ke kamarku. "Jangan masuk ke kamar dulu. Aku mengundangmu makan malam. Aku buat sushi dan sup sirip ikan...," kata Taro, "Itu, mangkuk dan piringmu sudah kusiapkan," sambungnya, sambil menunjuk dua set piring dan mangkuk di atas meja makan.
"Naomi belum pulang?" tanyaku kemudian, sambil berusaha keras mengerem diri untuk tidak menceritakan Naomi yang kulihat bergandengan tangan bersama Ferdinand alias Benderas. Lalu, Naomi ke Blok A, ke kamar Ferdinand. Bisa ditebak, apa yang mereka lakukan berdua di kamar? Kusingkirkan pikiran keruhku mengenai Naomi-Ferdinand. Perhatianku kufokuskan kepada Taro yang mengajakku bicara mengenai Naomi.
Ia berkata, "Malam ini Naomi tidak pulang. Dan, ia memang tidak pernah akan pulang lagi di rumah ini. Dia pulang ke tempat lain bersama kekasihnya...!" sahut Taro, nadanya tenang, tapi membuatku terkejut.
"Apa maksudmu, Naomi pulang ke tempat lain bersama kekasihnya, Taro?" tanyaku spontan.
Taro tidak menjawab. Tapi, ia memperlihatkan pisau dari Tokyo yang berlumuran darah yang mulai mengering dan beratus-ratus helai rambut menempel di permukaannya. Aku mengenali rambut itu, rambut Naomi. Ohhh...! Tubuhku langsung gemetar dan butir-butir keringat dingin bermunculan di keningku. Sebilah pisau dari Tokyo yang ada di tangan Taro itu di mataku tampak menyeringai dipenuhi ribuan pasang taring Rahwana yang tengah mencabik-cabik leher Naomi yang kuning mulus dan jenjang. Lalu, darah segar pun mengalir deras dari leher Naomi yang terkoyak-koyak dan terpatah itu....
"Mari, makan malam bersamaku, sebelum polisi menangkapku. Atau, sebelum aku menyerahkan diri ke polisi...," kudengar lamat-lamat suara Taro mengajakku makan, dengan suara tenang.
Aku tidak mau dan memang tidak bisa memenuhi ajakannya, karena kepalaku tiba-tiba pusing, perutku mual, mataku berkunang-kunang, lalu lupa segalanya, kecuali kilatan pisau itu: sebilah pisau dari Tokyo. Pisau jagal...!
Traktor roda ban (TRB) yang dikemudikan Siman terjungkir karena roda belakangnya terperosok ke dalam lubang eks-Ganoderma. Ia tertindih di bawah traktor dan tewas. Kabar tentang kecelakaan itu segera menyebar ke seluruh daerah perkebunan karena sebelumnya peristiwa seperti itu tidak pernah terjadi. Sariga, yang pertama kali mendapat peluang sebagai kontraktor pengolahan lahan tanaman ulang di perkebunan kelapa sawit itu, terperanjat. Kerja di perkebunan tidak seharusnya berakibat sejauh itu. Yang harus dilakukan hanyalah mencangkul dan membalik tanah dengan kedalaman 25 cm. Pencangkulan dilakukan secara mekanis, menggunakan bajak cakram berukuran lebih kurang 30 inci, ditarik traktor roda ban. Selain dengan traktor, pencangkulan juga dapat dilakukan dengan traktor roda rantai (TRR). Seandainya Siman tidak buru-buru mengejar target, pastilah ia melihat lubang eks-Ganoderma yang panjang, lebar, dan dalamnya masig-masing 1 meter itu, dan pasti ia akan mengelak. Tapi takdir ternyata menentukan lain. Kematian Siman sangat mengejutkan Sariga karena tahun lalu, ketika ia menyuplai beberapa kebutuhan kecil perkebunan itu, Siman bekerja di perusahaannya sebagai pengantar barag-barang kebutuhan tersebut. Artinya, Siman belum setahun jadi operator TRB. Bisa saja kecelakaan itu terjadi karena kurangnya pengalaman Siman sebagai operator. * * * Kasus tewasnya Siman semula menjadi berita kecil di suratkabar lokal. Kemudian muncul surat pembaca yang prihatin akan keselamatan pekerja. Ia mempertanyakan dalam kasus seperti itu siapa yang bertanggungjawab. Perkebunan? Pemilik alat-alat berat? Atau, kontraktor penyewa alat-alat berat? Surat pembaca lain menyusul. Ia menempatkan perkebunan pada posisi yang paling bertanggungjawab. Alasannya sederhana saja. Mengapa lubang eks-Ganoderma telah digali, sedangkan lazimnya penggalian itu dilakukan pada saat pohon-pohon sawit tua ditumbangkan? Surat pembaca ini bersambut dengan cepat. Gabungan Pengusaha Lokal (GPL) akan meninjau lokasi kecelakaan dan akan menarik kesimpulan siapa yang bertanggungjawab. Setelah kunjungan ke tempat kecelakaan, GPL sependapat dengan penulis surat pembaca kedua. Bahkan, GPL tidak berhenti di sana. Kecurangan tender mulai diungkapkan. Suratkabar lokal, banjir dengan berita-berita tudingan yang diarahkan ke perkebunan. Orang pertama perkebunan sebagai pimpinan baru di sana menjadi sasaran empuk GPL. Direktur Utama ini segera mengadakan rapat direksi. Mengapa sampai ribut-ribut ini terjadi? "Dua orang anggota pengurus GPL tahun ini tidak memenangkan tender," sahut Direktur Produksi. "Apa benar tender tidak dilakukan menurut prosedur?" tanya Direktur utama. "Semua dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku," Direktur Produksi menjelaskan lagi. Dalam rapat yang berlangsung satu jam itu, masukan-masukan berharga banyak diberikan bawahannya kepada Orang Pertama di perkebunan ini. Kalau hanya anggota biasa GPL yang tidak mendapat proyek, para pengurusnya tidak pernah meneriakkan apa pun. Tapi, kalau anggota pengurus yang tidak kebagian jatah tahunan, mereka akan berteriak hingga ke ujung langit. Padahal mereka masih tetap mendapat jatah di bagian pengadaan dan teknik, walaupun volume kerjanya kecil. "Mengapa tahun ini mereka tidak berhasil memenangkan tender pengolahan lahan tanaman ulang?" Orang Pertama mencoba mencecar. "Karena hasil kerja mereka tahun lalu di bawah standar," sahut Direktur Produksi spontan dan meyakinkan. Tentu saja para direktur dalam rapat tidak menjelaskan kepada Orang Pertama yang baru ini bahwa jatah pengolahan lahan tanaman ulang tersebut hanya diberikan kepada beberapa pengusaha yang sama setiap tahun. Khususnya untuk lahan-lahan luas berukuran antara 500 hektar hingga 2500 hektar. Agar tidak terlalu mencolok, lahan terkecil dengan luas 200 hektar diberikan bergantian kepada beberapa kontraktor lain, termasuk pengurus GPL. Rasa tenteram Orang Pertama perkebunan itu membersit jelas di wajahnya, setelah semua bawahannya meyakinkan bahwa ribut-ribut di luar itu tidak perlu ditanggapi karena nanti toh akan padam sendiri. Ini bukan peristiwa pertama. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena selama ini pun tidak pernah ada teguran dari kantor pusat. Para bawahan ini juga tidak mengungkapkan bahwa biasanya gangguan akan muncul pihak perkebunan tidak memberikan tanggapan atas berita-berita yang beredar luas itu. Drum-drum minyak solar yang di drop di gudang penyimpanan BBM (bahan bakar minyak) tidak jarang tiba-tiba bocor dan kosong.Ban TRB juga tidak jarang menjadi sarang pemboocoran. Pemuda-pemuda tak dikenal sering pamer kekuatan dan meminta operator TRB, TRR atau petugas lapangan lainnya untuk berhenti bekerja satu dua jam, agar target yang mereka kejar tidak tercapai. Tidak jarang pula mereka memeras operator alat-alat berat itu, bahkan buruh-buruh kecil penanam kacangan. Orang Pertama menutup rapat dengan rasa puas. Memperoleh order karena memenangkan tender besar atau memenangkan persaingan menghadapi dua rekanan lain tanpa melalui tender untuk mendapatkan order-order kecil di perkebunan ini tidaklah mudah. Karena itu, seperti juga pemborong lainnya, Sariga yang mendaftarkan diri menjadi rekanan untuk semua jenis pekerjaan: pengadaan barang, teknik, dan pengolahan lahan tanaman ulang, selalu harus gigit jari. Penanaman kelapa sawit muda dilakukan pihak perkebunan setiap tahun untuk menggantikan pohon-pohon yang telah berusia antara 25-30 tahun. Kontraktor hanya mengolah tanah, merobohkan tanaman tua, meratakan dan menghaluskan tanah, serta menanam rumput kacangan. Karena itu di kalangan pemborong, sebutan yang sering terdengar untuk tugas ini adalah land clearing. Dengan adanya sekitar 200 perusahaan yang menjadi rekanan di perkebunan itu diperlukan perjuangan berat untuk mendapatkan order. Untuk itu Sariga harus rajin berkunjung ke berbagai lokasi perkebunan menemui para administratur dan "menjalin hubungan baik". Relasi dengan para kepala bagian di kantor perkebunan juga harus dipelihara setiap saat. Bahkan, koneksi dengan pegawai staf dan nonstaf di tingkat bawah pun harus dipupuk terus menerus. Terkadang Sariga merasa dirinya sebagai pengemis yang meminta ke sana kemari, walaupun hanya untuk mendapatkan order kecil. Melelahkan, sekaligus menyebalkan. Apalagi bila kepala bagian yang merekomendasikan order tersebut ke direktur meminta servis makhluk hidup yang bernama manusia sebagai teman kencan. Perasaan berdosa terpaksa dibuang Sariga jauh-jauh untuk mendapatkan order yang diinginkannya itu. Tapi, kali ini ia mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan proyek pengolahan lahan itu bukanlah karena kerja keras. Tokoh yang baru ditunjuk untuk menjadi Orang Pertama di perkebunan itu adalah sahabat almarhum ayahnya. Begitu Sariga menemuinya, Orang Pertama itu segera menunjuk Sariga sebagai salah satu pemborong melalui tender yang diadakan setiap bulan Desember. Tender di perkebunan ini, sebagaimana lazimnya pada banyak tender yang lain, dilakukan hanya sebagai proforma untuk memenuhi persyaratan. Pengumuman tender pun hanya dilakukan di sebuah suratkabar kecil dan dicetak khusus limapuluh lembar dalam penerbitan pura-pura. Artinya, khusus untuk tender tersebut, suratkabar dicetak ulang limapuluh lember dengan mencantumkan pengumuman tentang tender itu. Suratkabar puluhan lembar itu tidak diedarkan ke pasar. Ini hanya diperlukan sebagai bukti dan disimpan dalam berkas bahwa prosedur tender telah dilakukan dengan benar. Sebagai pemborong yang pertama kali mengerjakan proyek pengolahan lahan, menumbangkan pohon, meratakan dan menghaluskan tanah, serta menanam kacangan, Sariga terpaksa bekerja sama dengan seorang kontraktor yang pernah mengerjakan tugas itu. Lahan pohon kelapa sawit tua seluas 200 hektar itu mereka garap bersama sepuluh bulan. * * * Istri Siman yang datang mendadak ke rumah Sariga memohon dengan memelas. "Tolonglah, Pak. Saya bersedia bekerja di bagian mana saja. Mengantar barang-barang juga boleh." Sariga menatapnya. "Saya masih berusaha mendapatkan order-order kecil, tapi belum dapat, Bu. Servis mesin, baru dilakukan tiga bulan lagi. Itu pun kalau saya bisa mendapatkannya. Penggantian ban truk, baru bulan depan. Pak Kepala Bagian Pengadaan telah berjanji akan memesan 30 ban dari saya, dari 180 ban yang dibutuhkan. Sekarang ini saya baru mengolah tanah bersama Pak Gurning." "Di situ juga boleh, Pak." "Kerja sekarang masih kerja traktor, Bu. Setelah itu baru menumbang pohon dengan mesin. Menanam kacangan baru dilakukan setelah pekerjaan tahap dua beres, atau sekitar enam bulan lagi. Untuk menanam kacangan itu saya pasti akan mempekerjakan Ibu." Istri Siman tidak asing lagi dengan tahapan kerja yang disebutkan Sariga, karena ia telah bekerja lebih dari 30 tahun di perkebunan itu. Yang ia tidak mengerti adalah mengapa santunan yang diterimanya karena kematian Siman sangat kecil dan hanya cukup untuk biaya hidup dua bulan, termasuk biaya sekolah anak-anaknya. Setelah pamitan dengan hormat, ia melangkah gontai meninggalkan halaman rumah Sariga. Kontraktor kecil itu menatapnya dengan rasa sedih yang menggumpal. Ia tiba-tiba terkenang akan almarhumah ibunya, yang dulu terpaksa berjalan kaki berkilo-kilometer, menjajakan kain angsuran dan berutang ke sana kemari untuk membiayai anak-anaknya. Wajah istri Siman, yang memelas ketika menemuinya dan saat meninggalkan rumahnya, meledakkan teriak dalam dirinya. "Aku berani menghamburkan dua juta rupiah untuk memperbaiki mobil kepala bagian teknik dengan begitu mudah, tapi membiarkan ibu tiga anak itu pulang dengan tangan hampa." * * * "Wah, saya disindir Kepala Bagian Teknik," ujar Kepala Bagian Tanaman kepada Sariga, yang melaporkan hasil kerja berkalanya kepada Kepala Bagian Tanaman. Sariga tidak mengerti maksud orang yang dihadapinya. "Soal perbaikan mobil dua juta itu," Kepala Bagian Tanaman melanjutkan. Sariga baru memahami yang dimaksudkan Kepala Bagian Tanaman. "Saya tidak bercerita kepada siapa pun," sahut Sariga membela diri. "Ya, mungkin orang bengkel yang tidak dapat menutup mulut mereka," Kepala Bagian Tanaman menenangkan Sariga. Setelah melaporkan hasil kerjanya, Sariga meninggalkan ruang kerja Kepala Bagian Tanaman. Dengan pasti ia melangkahkan kakinya menuju rumah Siman. Dengan sopan dan sangat bersifat kekeluargaan, ia meminta kepada istri Siman agar menolongnya. "Parto tidak pernah ke mana-mana setelah pulang sekolah," ujar istri Siman. "Saya melihat sendiri Parto dibonceng salah seorang pemuda brandal itu ketika memaksa operator alat-alat berat agar berhenti bekerja. Saya juga menyaksikan ketika Parto meminta duit kepada operator TRB saya." Istri Siman memandang tenang ke wajah Sariga. Kalau dulu ketika ia berkunjung ke rumah kontraktor muda ini ia menatap Sariga dengan wajah memelas, kini ia memandang lelaki itu dengan penuh percaya diri. "Walaupun kami orang miskin, janganlah menyepelekan kami seperti itu. Parto tidak pernah meninggalkan rumah sepulang sekolah. Kalau pun ia keluar rumah, ia hanya pergi ke rumah tetangga sebelah. Lima anak SMP berkumpul di sana untuk mendapat bimbingan pelajaran matematika dari Parto. Anak itu sekarang membantu saya mencari nafkah. Dengan jualan gado-gado dan pecal di depan rumah ini saja pendapatan tidak cukup." Sariga meninggalkan rumah Siman dengan perasaan tercabik-cabik. Kenapa ia percaya begitu saja kepada laporan yang diterimanya dari salah seorang karyawannya, dan kemudian berdusta kepada istri Siman dengan mengatakan menyaksikan Parto bersama brandal-brandal itu? Hati kecilnya membisikkan dan mengingatkan kepadanya bahwa ia benar-benar kehilangan Siman ketika lelaki itu meminta berhenti bekerja dan pindah ke tempat lain. Siman adalah pekerja yang tekun, jujur, dan selalu ringan tangan membantu siapa saja. Siman jugalah yang meyakinkan dirinya bahwa kekuatan uang dapat menaklukkan siapa saja. Siman dengan berani mengatakan seperti itu karena sebuah order yang telah menjadi milik Sariga tiba-tiba dibatalkan dan diberikan kepada orang lain tanpa sesuatu alasan. Sariga menghentikan langkahnya. Ia ingin berbalik, kembali menemui istri Siman dan meminta maaf. Tapi, rasa malu mencegahnya. Pada saat itu pula ia tertegun dan tidak percaya. Rasa malu yang telah begitu lama meninggalkan dirinya kini kembali merangkulnya. Lama ia berdiri di jalan itu tanpa tahu harus berbuat apa. Akhirnya keputusan itu diambilnya. Ia menunggu Parto di pinggir jalan itu. Begitu ia melihat Parto yang datang bersama teman-temannya sepulang dari sekolah, ia segera menghampiri. Ia memberi isyarat agar Parto datang kepadanya. Ketika remaja itu telah berdiri di depannya, ia tersenyum dan berkata, "Parto, kamu masih punya waktu mengajar matematika?" Parto hanya mengangguk kepalanya. Setelah itu Sariga merogoh sakunya, mengambil sejumlah uang lalu dimasukkan ke kantong celana Parto. "Saya teman almarhum ayahmu. Saya senang mendengar kamu bisa membantu ibumu mencari nafkah. Sekarang pulanglah, dan gunakan uang itu untuk keperluan sekolahmu, ya." Setelah mengucapkan terima kasih, Parto pun segera bergegas pergi dengan langkah yang enteng. Sariga juga berjalan pulang menuju rumahnya dengan sedikit lega. "Mudah-mudahan istri Siman memaafkanku," seru Sariga dalam hatinya. ***
Langganan:
Postingan (Atom)
BALI IS THE BEST