Sabtu, 11 Desember 2010

BANJIR DI KOTA-KOTA BESAR JADI LADANG "KORUPSI"

Banjir Surabaya Kian Parah, Rp 25 M Disiapkan untuk “dikorupsi”
Masing-masing Rp 25 miliar untuk lima kota besar di Indonesia, salah satunya Surabaya.


Mobil terendam banjir
BERITA TERKAIT
• Hidup di Surabaya Lebih Murah dari China
• Bea Cukai Gagal Lacak Pabrik Rokok Ilegal
• Belum Siap, RS BDH Batal Diresmikan
• Benang Kusut Permasalahan Reklame di Surabaya
• Gula Impor Thailand Masuk Surabaya
Anto Supriyanto . *10 tahun terakhir, banjir di Surabaya kian parah. Tak heran, bila Departemen Pekerjaan Umum (PU) memberi dana masing-masing Rp 25 miliar untuk lima kota besar di Indonesia, salah satunya Surabaya. Kepala Dinas PU Pengairan Jatim, Mustofa Kamal Basya mengatakan dengan program urban flood control and selective city, pemerintah pusat melalui Departemen PU akan memberi bantuan untuk lima kota besar di Indonesia guna menangani banjir. ”Saya tidak hafal mana saja, yang saya tahu Surabaya mendapatkan dana bantuan tersebut sebesar Rp 25 miliar yang diberikan dalam tahun anggaran 2010 hingga 2013 mendatang,” saya mengusulkan untuk mengatasi banjir di Surabaya, rencana, pembangunannya harus dimulai dari hulu, yaitu mulai dari DAS BRANTAS sampai ke hilir. Sebab, banjir yang terjadi di Surabaya karena tingginya curah hujan yang ada di hulu sehingga mempengaruhi debit air di Kali Surabaya. Untuk itu, dalam mengatasi banjir di Surabaya harus diatasi secara menyuruh mulai dari hulu hingga ke hilir. ”Salah satu upaya adalah dengan membangun plengsengan mulai dari pintu air Nginden sampai hilir,”
Untuk mengatasi banjir di Surabaya, Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang Jatim pun tidak tinggal diam. Bahkan, dinas yang dikepalai oleh Budi Susilo ini juga telah membangun dua rumah pompa pada 2008 dan enam rumah pompa pada 2009 lalu tapi terkesan sia-sia dan menghamburkan uang rakyat.
”Rencananya tahun ini, kami akan kembali membangun dua rumah pompa. Semua dana pembangunan rumah pompa berasal dari APBN,” katanya. Masih menurut Budi Susilo, dengan pembangunan 10 rumah pompa itu dapat mengurangi daerah rawan terendam air atau banjir di Surabaya dari 20% pada 2008 menjadi 11% persen pada 2010. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) pemkot Ir Tri Rismaharini mengatakan, pemkot memang sangat membutuhkan dana bantuan dari pemerintah pusat. Dana bantuan itu sudah lama diinginkan terutama untuk mengatasi banjir di kawasan Surabaya Barat.Di Surabaya ada beberapa kawasan yang sering mengalami banjir di antaranya di kelurahan Sememi, kecamatan Benowo. Di sana ada kawasan yang sering tergenang banjir akibat tidak ada saluran air yang mewadahi dan waduk sebagai tempat penampungan.Selain itu, di kawasan perbatasan Gresik-Surabaya juga mengalami hal serupa. Kawasan itu akibat luapan Kali Lamong yang setiap musim hujan selalu banjir. Salah satu penanganan banjir di kawasan perbatasan ini harus ada kerjasama antara Pemkab Gresik dan Kota Surabaya. Kerjasama yang mungkin diusung adalah pembuatan waduk di sekitar Kali Lamong. Sementara kerjasama tersebut juga harus melibatkan pemerintah pusat melalui Departemen PU. “Kami berterimakasih kalau pemerintah pusat memberikan bantuan dana sebesar itu,” kata Risma.
Selain di kawasan Surabaya Barat, banjir juga melanda kawasan Surabaya Timur dan Selatan. Cuma banjir di sana tidak separah di kawasan Surabaya Barat,tapi hal diatas hanya sebuah retorika dari para pejabat di negri ini dana,dana dan dana lagi tapi tidak mencapai sasaran yang di tuju.
Mengapa saya dapat mengatakan hal ini karena memang penanganan banjir selama ini hanya sia-sia dan tidak dapat menyelesaikan masalah banjir baik di Surabaya atau di seluruh wilayah Indonesia, dan hal ini bukan lagi menjadi rahasia umum ditengarai dapat “menggendutkan” pundit-pundi rupiah para pejabat di negeri ini dan dalam tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa pemerintah baik daerah atau pusat pandai mencari “PROYEK TAHUNAN” dimana mereka dapat mencari kesempatan dalam kesempitan dari kegiatan proyek ini. Tapi dalam hal ini saya ingin memberikan solusi penanganan banjir baik di Surabaya, banjir Jakarta, banjir bandung dan banjir di kota-kota besar lainnya sebagai berikut:
A.Jangan hanya menangani banjir di daerah hilir saja dengan pengerukan normalisasi sungai, pembuatan saluran air, menambah selokan-selokan baru , pembuatan pompa-pompa air ya biarpun hal itu dapat sementara mengurangi banjir kecil tapi tidak dapat menyelesaikan masalah banjir besar, tapi hal ini harus dimulai dari daerah hulu saya akan memberikan contoh misalnya di daerah Surabaya yang mana dari hulu kita sering mendapatkan banjir kiriman dari sungai terbesar di jawa timur yaitu sungai Brantas kita ambil contoh pintu air di jagir wonokromo sabagai TITIK PERTAMA ya tepat di situ kita harus membuat waduk atau bendungan yang dapat menyimpan air dengan memperluas lebar dan kedalaman dari luasan sungai jagir misalnya memperluas tepat di sebelah kanan dan kiri sebelum jembatan wonokromo dapat kita buat waduk jadi di sebelah kirinya kita dapat menggusur permukiman di setren kali dan sebelah kanan kita ambil terminal wonokromo jadi air tawar juga tidak kita buang sia-sia dan dapat bermanfaat untuk cadangan saat musim kemarau dan saat air waduk telah memenuhi ambang batas maka TITIK KEDUA setelah kita ambil dari titik waduk /bendungan di jagir jarak sepanjang 20 km kita buat lagi waduk/bendungan yang luasanya sama seperti di jagir kemudian Titik Kedua tersebut dapat kita tutup untuk memenuhi ambang batas di titik kedua setelah mencapai ambang batas kita tutup TITIK KETIGA jaraknya setelah kita ambil dari titik waduk /bendungan dari titik kedua dengan jarak sepanjang 20 km kita buat lagi waduk/bendungan yang sama seperti di jagir kemudian titik ketiga tersebut dapat kita tutup untuk memenuhi ambang batas di titik ketiga setelah mncapai ambang batas kita tutup titik –titik berikutnya dan kita ambil experiment misalnya kita membuat 5 titik waduk/bendungan dari hulu sampai hilir dengan begitu seandainya ke-5 waduk atau bendungan tersebut telah mencapai ambang batasnya masing-masing maka saatnya kita membuka pintu air dari ke-5 waduk/bendenguan tersebut dan mengalirkannya ke hilir dengan tujuan kelaut maka DAS di daerah HILIR tidak akan mengalami suplai air berlebihan dari DAS di daerah HULU bila daerah HULU mengalamai banjir besar yang terus menerus.
Saya berharap dengan usulan klausul saya ini pemerintah pusat/daerah bisa mengadopsi usulan ini untuk dipertimbangkan lagi secara ilmiah dan di bahas secara seksama jadi kita tidak lagi dihantui kecemasan akan adanya banjir apalagi banjir kiriman dari daerah hulu, dan tujuan dari tulisan saya adalah pemerintah baik daerah/pusat tidak menghambur-hamburkan uang rakyat hanya untuk mengurusi “PROYEK TAHUNAN” seperti selama ini terjadi.KITA BISA MENCEGAH BANJIR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar